Islam Tidak Membenarkan Pemaksaan dan Tekanan Dalam Beragama

on Tuesday, June 18, 2013

Agama Ilahi terakhir dan sejati adalah Islam, agama kedamaian, pengampunan, dan kasih sayang. Islam bukanlah agama yang didasari kepercayaan atas paksaan, Islam mendorong kepatuhan serta kesungguhan sepenuhnya kepada perintah Allah SWT. Oleh karena itu, penting sekali bagi setiap orang yang mengaku seorang Muslim agar menjadi penganut Islam menurut hati dan aspirasinya sendiri. Selain itu, seorang Muslim harus mematuhi aturan dan perintah Allah SWT sepenuh hati dan berasal dari keyakinan batinnya. Allah SWT berfirman di dalam Kitab Suci Al-Qur’an;

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat … ” (Q.S. Al-Baqarah : 256)

Kewajiban Muslim

Dalam keadaan ini, kewajiban umat Islam adalah untuk menegakkan kebenaran dan kebaikan serta mengecam kebatilan sesuai dengan perintah Allah SWT;

“Hai anakku, dirikanlah shalat, dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar … “(Q.S. Luqman : 17)

Dari ayat ini khususnya, jelaslah bahwa peran umat Islam untuk mendorong dan menjalankan perbuatan mulia dan juga adil, serta menganjurkan orang-orang untuk menahan diri dari hal-hal tercela dan menyerukan mereka menuju jalan yang benar yaitu jalan Allah SWT.

Kehidupan Nabi Muhammad SAW meupakan sebuah teladan

Nabi Muhammad SAW menyebarkan Islam selama lebih dari 23 tahun dan selama itu, beliau tidak berusaha mempengaruhi siapapun dengan kekerasan agar memeluk Islam. Beliau menghadapi kekejaman luar biasa dan tidak dapat ditolerir dari musuh-musuhnya selama serangkaian perjuangan panjangnya. Bahkan kemudian, beliau tidak mengutuk siapapun, tidak pula beliau mencoba untuk membalas dendam kepada musuh terberatnya. Di sisi lain, ketika beliau mulai mengajarkan Al-Qur’an kepada orang-orang Arab, beliau berusaha meyakinkan mereka untuk memeluk Islam dengan jalan menguraikan ajaran agama Islam yang masih terhitung baru saat itu. Kemudian beliau membiarkan keputusan memilih antara yang benar dan yang salah dengan kebebasan hati nurani mereka apakah mereka ingin memperoleh rahmat Allah SWT atau ingin menderita murka dari Sang Pencipta.

Pemanfaatan kekuasaan adalah haram

Pemanfaatan kekuasaan atau berbagai sumber yang tidak sah untuk memaksa kaum non-Muslim agar memeluk Islam adalah perkara mustahil dalam Islam. Allah SWT tidak membolehkan umat Islam untuk memaksa atau menekan siapapun agar memeluk Islam. Jika seseorang atau sebuah kelompok mencoba untuk melakukannya, mereka tidak melakukan pengabdian apapun demi nama baik Islam. Nyatanya, orang-orang ini bertindak melawan perintah yang jelas berasal dari Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW.

Implikasi menghindari pemaksaan

Ada makna besar di balik menghindari paksaan dalam beragama. Kata “Islam” secara harfiah berarti “penyerahan.” Muslim adalah orang-orang yang menyebarluaskan perdamaian dan tunduk sepenuhnya kepada kehendak Allah SWT. Oleh karena itu, untuk menjadi seorang Muslim yang taat, ia harus berkeyakinan kuat kepada Allah SWT serta harus mematuhi perintah dan aturan-aturan dengan penuh semangat dan gairah. Jadi, jika orang kafir memeluk Islam di bawah penindasan dan paksaan, ia tidak akan menjadi seorang Muslim dengan hatinya, melainkan akan menjadi orang munafik.

Siapakah orang-orang munafik?

Orang munafik adalah orang-orang yang tampaknya beriman kepada Allah SWT dan Islam, tetapi melakukan perlawanan terhadap Islam, kesejahteraan umat, dan kemajuan Islam. Allah SWT mendefinisikan takdir bagi orang-orang munafik melalui firman berikut:

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (Q.S. An-Nisa : 145)

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman:

“Hai nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah adalah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuhk-buruknya.” (Q.S. At-Taubah : 73)

Keadaan orang munafik kepada Allah SWT adalah jelas dari kedua ayat Al-Qur’an ini. Selain dari ayat-ayat tersebut, Allah SWT telah menjelaskan karakteristik orang-orang munafik dan kebencian mereka terhadap Islam secara rinci dalam bagian lain dari Al-Qur’an. Misalnya, Allah SWT menyebutkan bahwa orang-orang yang tampaknya beriman kepada Allah SWT pada hari kiamat tetapi mereka enggan menjalankan kewajiban dan tata cara keagamaan karena mereka sesungguhnya menjadi kafir yang buruk.

Apa yang harus dilakukan umat Islam?

Di sini, Islam harus berusaha menyebarkan Islam melalui perdamaian dan kasih sayang dengan mengikuti ajaran Islam yang sebenarnya. Mereka harus mencoba untuk meyakinkan non Muslim bahwa hanya agama Islam lah agama yang menetapkan perdamaian dan stabilitas, serta menjamin kesuksesan dunia-akhirat. Mereka perlu mengajak orang-orang untuk mempelajari Islam dan kemudian menyerahkan keputusan dengan pemikiran dan hati nurani mereka.

Kaum Muslim dapat merujuk teman-teman non-Muslim mereka untuk mencari ilmu di mana mereka dapat mempelajari Al-Qur’an secara online atau kepada para ulama Muslim termashyur dan handal untuk memberikan bantuan yang bernilai dalam hal ajaran Islam. Namun, cara terbaik untuk membujuk orang-orang kafir agar memeluk Islam adalah dengan menampilkan diri sendiri sebagai wujud penerapan yang bermanfaat dari seorang Muslim sejati.

Kesimpulan

Dari pembahasan sebelumnya, telah dipastikan bahwa penindasan dan kekerasan tidak menciptakan Muslim yang kokoh tetapi menimbulkan munculnya seseorang yang disebut sebagai munafik yang paling tidak disukai Allah SWT. Oleh karena itu, setiap cara yang menjadikan “Muslim” semacam itu akan menderita murka Allah SWT pada hari kiamat yang tidak dapat diterima dalam Islam.

You can also read this article in English Here



View the
Original article

0 comments: