Showing posts with label dalam. Show all posts
Showing posts with label dalam. Show all posts

Bermacam Adab Sopan Santun Dalam Islam

on Sunday, March 10, 2013

Islam itu lebih dari sekedar agama, Islam adalah petunjuk sempurna bagi kehidupan. Di antara sejumlah hal yang dianjurkan mengenai cara hidup Islami, sopan santun memiliki kedudukan yang menonjol dalam masyarakat Islam. Sopan santun dalam Islam dianggap sebagai bagian dari iman seseorang sekaligus cara untuk memelihara umat manusia dari dosa dan kesalahan. Semua nabi menekankan pentingnya adab sopan santun dalam kehidupan setiap umat Islam. Rasulullah SAW telah mengingatkan perihal ketiadaan sopan santun dengan bersabda,

“Sesungguhnya dari apa yang didapatkan oleh manusia pada ucapan kenabian yang pertama adalah apabila engkau tidak punya rasa malu, maka lakukan sesukamu.” (HR. Al-Bukhari)

Sopan santun dalam Islam merujuk pada berpaling dari akhlak tercela seperti berlaku tak pantas terhadap orang lain dan menyadarinya baik di lingkungan masyarakat maupun dalam kehidupan pribadi. Adab sopan santun mencakup berbagai segi seperti bagaimana umat Islam berpakaian, menjaga ucapan dari perkataan yang tidak senonoh, berurusan dengan orang lain, dan yang paling penting, seberapa besar pertanggungjawaban yang ia takutkan di pengadilan akhir kelak.

Sopan santun dalam Islam dinilai dari seberapa baik seseorang dapat mengendalikan tabiatnya dan menjaga lidahnya dari pembicaraan yang sia-sia. Jika ia tidak dapat menahan amarahnya, ia mungkin menuruti kehendaknya untuk melakukan pelecehan secara verbal atau penyiksaan fisik terhadap orang lain. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad, Sahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah R.A., Rasulullah SAW bersabda bahwa:

“Orang yang kuat bukanlah orang yang mampu mengalahkan lawannya. Sesungguhnya orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah.”

Siapapun dengan iman yang kuat tidak akan suka melanggar perintah Allah SWT atau berbuat dosa. Layaknya seseorang yang menyadari bahwa Allah SWT ada dimana-mana dan melihat segalanya, maka dia tetap menjauhi perbuatan dosa baik di depan umum maupun saat sendirian. Perihal sopan santun semacam ini dalam Islam dianggap sebagai rasa malu karena kesadaran.

Menurut Islam, sopan santun bisa didapat secara fitrah ataupun dipelajari. Secara alami, kesantunan dibangun di dalam diri laki-laki dan perempuan. Sebuah contoh akhlak sopan santun yang alami adalah keinginan bawaan untuk menutupi diri. Menurut Al-Qur’an, ketika Nabi Adam dan Hawa memakan buah dari pohon terlarang dan tersingkap satu sama lain, mereka mulai menutupi auratnya dengan dedaunan karena mereka memiliki rasa pembawaan yaitu sopan santun.

Sopan santun membedakan manusia dari hewan. Sopan santun dalam Islam terkait dengan berbagai kebiasaan seperti meminta izin sebelum memasuki ruangan, mengikuti cara berpakaian yang tepat, menghimbau teman-teman untuk berlaku sopan dan menjauhi perbuatan tak senonoh.

Islam menganjurkan siapapun untuk menundukkan pandangannya dan terpelihara dari perangkap setan yang termasuk dalam perbuatan tercela seperti perzinahan atau homoseksualitas. Allah SWT memerintahkan adab sopan santun dalam firmanNya,

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka:, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (Q.S. An-nur : 30)

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pendangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak daripadanya …” (Q.S. An-nur : 31)

Jenis sopan santun yang paling penting dalam Islam adalah yang disanggupkan kepada Allah SWT. Seperti yang Rasulullah SAW sabdakan:

“Engkau lebih harus merasa malu kepada Allah daripada kepada sesama manusia.” (HR. Abu Dawud)

You can also read this article in English Here

About the author

• A mix of foodie • blogger • talker • designer • master of ceremony • broadcaster •



View the Original article

Khadijah R.A – Seorang Perempuan Luar Biasa dalam Islam

on Saturday, February 16, 2013

Khadijah R.A. memiliki kedudukan khusus dalam sejarah Islam dikarenakan pencurahan dirinya sepenuhnya kepada ALLAH SWT. Dia menempatkan lebih rendah keinginannya demi ALLAH SWT.

Menurut sebuah hadis riwayat Bukhari Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sebaik-baik wanita pada zamannya adalah Maryam, putri Imran, dan sebaik-baik wanita dari umatnya adalah Khadijah binti Khuwailid.”

Pada permulaan Islam, Nabi Muhammad SAW memiliki perkara sedemikian rupa dalam hidupnya dan beliau membutuhkan seseorang sebagai pasangan dalam kebaikan yang utama, yang akan menyerahkan diri dan harta bendanya sepenuhnya kepadanya tanpa pernah meninggikan suara dalam pengaduan atau keluhan. ALLAH SWT memilih Khadijah R.A. sebagai pasangan hidup Rasulullah SAW yang merupakan perempuan Islam pertama dan seorang mukmin sejati. Dia mendukung Rasulullah SAW dengan hati dan jiwanya.

Khadijah R.A. melakukannya, tanpa keraguan, mengorbankan segalanya termasuk hidup, harta benda, waktu senggang, dan kesenangan hidupnya demi ALLAH SWT dan Rasulullah SAW. Meskipun hidupnya sebagai konsekuensi dari kesulitan yang hebat, dia tidak pernah terdengar mengeluh. Itu adalah sifat-sifat terpuji yang membuat dirinya patut dipuji di mata ALLAH SWT untuk menjadi pasangan hidup Nabi yang terakhir, Nabi Muhammad SAW. Mari cari tahu sebab keunggulan dirinya. Sabda Nabi Muhammad SAW menyatakan beberapa hal tentang ini.

Satu-satunya istri lain Rasulullah SAW yang masih perawan saat dinikahi, Aisyah R.A. mengatakan bahwa dia pernah merasa cemburu kepada Khadijah meskipun beliau tidak seumuran dengannya. “Pada saat Rasulullah SAW memotong seekor kambing,” kata Aisyah R.A., “Beliau akan memberitahu saya untuk mengirimkan sedikit daging kepada kerabat-kerabat Khadijah.” Suatu hari saya menjadi marah, “Oh tidak, tidak Khadijah lagi!” Saya berteriak keluar, yang mana Rasulullah SAW menjawab, “Sesungguhnya saya telah dikaruniai cintanya (Khadijah).”

Menurut Aisyah R.A., Nabi Muhammad SAW, Nabi terakhir ALLAH SWT tidak akan pergi keluar rumah tanpa menyebut dan memuji Khadijah. Suatu hari ketika beliau berbicara tentang Khadijah, saya merasa tersinggung dan berkata, “Bukankah dia hanya seorang perempuan tua. Sebagai penggantinya, ALLAH SWT telah memberikan kepadamu seseorang yang lebih baik.” Hal ini membuat marah Rasulullah SAW yang lalu bersabda, “ALLAH SWT tahu benar dengan apa yang telah diberikanNya kepadaku, tidak ada yang lebih baik daripada dirinya. Dia beriman padaku ketika orang-orang mengingkariku. Dia percayaiku di saat orang-orang mendustakanku. Dia membantuku dengan hartanya ketika orang-orang tidak mau memberikan hartanya kepadaku. Dan ALLAH SWT menganugerahiku keturunan melaluinya yang mana Dia tidak memberi saya anak dari istri-istriku yang lain.”

Dalam setiap zaman, tidak hanya laki-laki tetapi juga perempuan harus mendedikasikan diri mereka untuk misi Islam. Dalam dunia yang ideal mereka seharusnya menjadi orang-orang yang di dalamnya berkeinginan teguh, mirip dengan mekanisme kecil yang berputar kuat menurut gerakan roda yang lebih besar – dalam hal ini, kehendak ALLAH SWT. Tanpa diragukan lagi, ini merupakan tugas yang sulit, namun juga merupakan satu hal yang membawa pahala yang besar. Dengan begitu dapat dipastikan kualitas dan keunggulan pribadi-pribadi yang ALLAH SWT pilih untuk ikut serta sebagai khalifah-Nya.

You can also read this article in English Here

About the author



View the Original article

Menjelaskan Makna Jihad yang Sebenarnya Dalam Islam

on Tuesday, January 8, 2013

Jihad adalah kata yang paling disalahpahami oleh tidak hanya umat Kristiani, Yahudi, tetapi juga banyak umat Islam. Kesalahpahaman satu kata ini telah menimbulkan kesalahpahaman lain yang tak terhitung pula. Kata tersebut dianggap searti identik dengan “terorisme dan peperangan”, yang benar-benar salah. Propaganda Anti Islam sengaja mengiklankan konsep yang keliru mengenai jihad, hanya untuk membuat panik semua orang terhadap Islam dan memfitnah nama baik Islam.

Dalam Islam jihad sama sekali bukan berarti seperti apa yang terjadi saat ini. Jadi mari kita bersihkan kesalahpahaman ini tidak hanya bagi non-Muslim, tetapi juga bagi jutaan umat Islam lainnya. Jihad secara harfiah berarti mengerahkan upaya terbaik seseorang untuk mencapai tujuan. Dalam konteks Islam itu berarti setiap upaya yang diperjuangkan untuk kemajuan masyarakat demi menggapai keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Oleh karena itu, hal ini menjelaskan bahwa jihad dapat dilakukan oleh siapapun setiap saat. Bahkan, seorang Muslim sejati melakukan jihad sebenarnya sejak kelahiran hingga saat kematiannya karena setiap satu perbuatan baik dianggap sebagai jihad. Dengan demikian, seseorang tidak perlu menjadi superhero untuk melaksanakan jihad, tidak pula termasuk melancarkan perang melawan seluruh dunia.

Menurut Islam jihad memiliki bermacam bentuk. Jihad yang paling penting ialah ‘Jihad bil nafs’ yaitu perjuangan terhadap kehendak dan keinginan jahat seseorang (hawa nafsu). Arti harfiah dari kata Muslim ialah: “Orang yang menyerahkan kehendaknya kepada Allah SWT”. Oleh karena itu, konsep utuh menjadi seorang Muslim berkisar antara menangkal hawa nafsu yang setan tempatkan pada hati seseorang dan melaksanakan apa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah perintahkan untuk kita lakukan. Karenanya, jihad meliputi semua perbuatan yang seorang Muslim akan lakukan untuk melawan hawa nafsu hanya untuk mencapai ridha Allah SWT.

Ini merupakan bentuk paling penting dari jihad dan diperintahkan setiap Muslim untuk bertindak atasnya. Seperti Nabi Muhammad SAW sendiri telah bersabda: “Jihad terbesar adalah untuk melawan keinginan orang itu sendiri,” Ini berarti bahwa seorang Muslim yang berjuang melawan hawa nafsunya sendiri adalah yang paling dipandang sebagai upaya seperti memerintahkan takwa di dalam setiap tindak perbuatan hidupnya, dan inilah apa yang Islam minta kepada semua umat Islam untuk melakukannya.

Bentuk lainnya, yang dianggap sebagai Jihad-Al-Akbar yaitu termasuk yang “Besar dari semua bentuk jihad”, adalah upaya seorang Muslim untuk mencari baik pengetahuan duniawi serta keagamaan dan kemudian menyebarkannya. Sebagai Rasul, Nabi Muhammad SAW juga bersabda: “Tinta seorang sarjana adalah lebih suci daripada darah seorang syuhada.” Ini menjelaskan bagaimana sangat berharganya usaha untuk mencari pengetahuan dan menyebarkannya dalam Islam. Namun, tindakan ini hanya dianggap sebagai jihad jika tidak dilakukan demi imbalan moneter atau duniawi. Saya berharap bahwa sekarang telah jelas bahwa jihad tidak sama sekali berarti tindakan terorisme atau peledakan bom. Jihad adalah perbuatan yang dilakukan semata-mata demi menggapai keridhaan Allah SWT.

You can also read this article in English Here

About the author

tieefadunq

• A mix of foodie • blogger • talker • designer • master of ceremony •



View the Original article

Perempuan Dalam Perspektif Islam #3: Meluruskan Tuduhan Feminis

on Sunday, January 6, 2013

Beberapa tokoh feminis menyatakan bahwa berbagai aturan dalam Islam seringkali merugikan perempuan. Misalnya saja tentang pembagian harta warisan dimana perempuan hanya mendapat setengah dari bagian laki-laki. Ketentuan ini seringkali dijadikan senjata kaum feminis untuk mendiskreditkan Islam.

Menghadapi kenyataan tersebut, Allah sebenarnya telah memerintahkan masing-masing pihak (laki-laki dan perempuan) untuk sama-sama bersikap ridha terhadap adanya pengkhususan kepada salah satu pihak. Allah juga melarang bersikap saling iri dan dengki serta berangan-angan terhadap apa yang telah Allah karuniakan atas yang lain. Allah swt berfirman:

“Janganlah kalian iri terhadap apa yang telah Allah karuniakan kepada kalian atas yang lain. Bagi kaum pria ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi kaum wanita pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan.” (Terjemah Q.S An-Nisaa’: 32).

Ada beberapa riwayat hadits mengungkapkan sebab turunnya ayat di atas. Dalam sebuah riwayat dari at-Tirmidzi dan Hakim dikemukakan bahwa Ummu Salamah berkata, “Kaum laki-laki berperang, sedangkan wanita tidak, dan kita hanya mendapat setengah bagian warisan laki-laki.” Kemudian dalam riwayat lain dikemukakan bahwa seorang wanita mengadu kepada Nabi saw dengan berkata, “Ya Nabiyallah! Laki-laki mendapat dua bagian kaum wanita dalam waris dan dua orang saksi wanita sama dengan seorang saksi laki-laki. Apakah dalam beramal pun demikian juga?” (yaitu amal baik seorang wanita mendapatkan pahala setengah dari jumlah pahala laki-laki). Maka Allah turunkan ayat tersebut sebagai penegasan bahwa laki-laki dan wanita akan mendapatkan imbalan yang sama sesuai dengan amalnya (Muslikhati, 2004).

Dari ungkapan kalimat “gugatan” beberapa shahabiyah tersebut, sangat jelas bahwa mereka tidak merasakan iri dengki dari peran mereka sebagai perempuan, tapi lebih ke arah penilaian (perolehan pahala dari sisi Allah). Semangat umat Islam di masa-masa awal sangatlah tinggi dalam upaya beramal yang akan mendatangkan keridhaan Allah sehingga ketika menyikapi perbedaan hukum, bukan eksistensi diri pribadi yang mereka pertanyakan tetapi bagaimana kedudukan di hadapan Allah (Muslikhati, 2004).

Selain itu, Allah swt juga membebani hukum-hukum tertentu kepada pria saja atau kepada wanita saja, dengan karakteristik masing-masing. Misalnya saja dalam hal mencari nafkah. Islam telah membebankan kewajiban kepada suami (pria) untuk memberi nafkah istri, sedangkan tanggung jawab pengaturan rumah tangga kepada istri (wanita). Maka, berdasarkan ketentuan tersebut, hukum pembagian harta waris yang memberikan laki-laki dua bagian dari hak waris wanita menjadi jelas dan tidak perlu diperdebatkan lagi.

Kesetaraan dalam Urusan Spiritual

Pada beberapa agama di luar Islam, kaum perempuan harus berjuang untuk mendapatkan hak-haknya. Dalam banyak kasus, perjuangan mereka ternyata masih berlangsung hingga saat ini. Berbeda dengan Islam yang telah memberikan hak-hak kaum perempuan secara adil sehingga mereka tidak perlu meminta, apalagi menuntut atau memperjuangkannya. Allah swt berfirman:

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Terjemah Q.S Al-Ahzab; 35).

Dalam ayat di atas, disebutkan sejumlah sifat yang dianggap baik oleh Islam. Akan tetapi, pesan utama yang hendak disampaikan ayat tersebut adalah bahwa sifat-sifat baik itu dapat dimiliki oleh kedua pihak, baik kaum laki-laki dan perempuan. Sebagai manusia, kedua pihak mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Pahala dan kebaikan di Hari Akhir pun disediakan bagi kaum laki-laki dan perempuan. Setiap individu akan dihisab berdasarkan perbuatan yang mereka lakukan di dunia. Jenis kelamin sama sekali tidak dipertimbangkan dalam masalah ini (Patel, 2005).

Referensi

Muslikhati, Siti. 2004. Feminisme dan Pemberdayaan Perempuan dalam Timbangan Islam. Jakarta: Gema Insani Press.

Patel, I. A. 2005. Perempuan, Feminisme, dan Islam. Bogor: Pustaka Thariqul Izzah.



View the
Original article

Perempuan Dalam Perspektif Islam #1: Soal Feminisme

on Thursday, January 3, 2013

Dewasa ini gerakan feminisme tumbuh dan berkembang sedemikian pesatnya. Gerakan itu dengan cepat menyebar dari bumi belahan barat sampai bumi belahan Timur. Tujuannya satu, menuntut kesetaraan gender.

Mereka, kaum feminis, menilai bahwa selama ini pembagian peran antara laki-laki dan perempuan belum adil (equal). Perempuan selalu diidentikkan dengan pekerjaan di dapur, mengurus anak, dan segala keperluan rumah tangga, sedangkan bekerja atau mencari nafkah adalah tugas laki-laki. Perempuan selalu diidentikkan sebagai makhluk yang harus tunduk (sub ordinat) pada laki-laki. Di sisi lain, laki-laki dituntut memiliki jiwa kepemimpinan yang mumpuni. Perempuan juga selalu dianggap sebagai makhluk yang lemah, mudah menangis (dan dimaklumkan untuk menangis), serta menjadi objek seksual laki-laki, sedangkan laki-laki adalah makhluk yang kuat, pantang menangis, serta suka menggoda (dan diwajarkan untuk menggoda wanita).

Bagi kaum feminis, konsep seperti itu adalah konsep usang. Mereka tidak setuju dengan konsep “jadul” seperti itu. Mereka ingin perubahan. Mereka ingin membongkar stereotip-stereotip yang selama ini tumbuh dan berkembang di masyarakat.

Akan tetapi, banyak pengamat menilai bahwa tujuan dari gerakan ini belum terdefinisikan dengan jelas. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang kemudian timbul akibat ketidakjelasan tujuan ini. Misalnya, jika perempuan menuntut kesetaraan, lalu apa yang mau disetarakan? Peran kah? Kalau peran antara laki dan perempuan ingin disamakan, lalu untuk apa di dunia ini ada laki-laki dan perempuan? Kenapa tidak laki-laki atau perempuan saja? Pertanyaan lain yang juga muncul, kalaupun kesetaraan adalah harga mutlak dan tidak bisa ditawar lagi, lalu sudah siapkah perempuan disetarakan dengan laki-laki? Dalam dunia kerja misalnya, siapkah perempuan disetarakan dengan laki-laki yang tidak pernah cuti hamil, melahirkan, menyusui, dan menstruasi?

Adil = Equal?

Jika dikritisi lebih lanjut, gerakan yang tercetus karena merasa diperlakukan tidak adil ini sebenarnya memang telah cacat sejak dari pendefinisian tujuan karena mereka salah menafsirkan konsep adil dalam berkehidupan. Mereka lupa bahwa penerapan konsep adil tidak selamanya harus equal (sama rata), tapi ada juga keadilan yang equity (proporsional). Misalnya begini, dua orang anak diberikan uang jajan oleh ibunya. Anak pertama mendapat Rp 10.000, sedangkan anak kedua  mendapat Rp 2.000. Apakah sang ibu tersebut tidak adil? Justru disitulah letak keadilan sang ibu karena dia tau bahwa kebutuhan anak keduanya yang baru duduk di bangku SD adalah Rp 2000, sedangkan kebutuhan anak pertamanya yang duduk di bangku SMA adalah Rp 10.000. Kalau sang Ibu menganggap bahwa adil adalah equal, kemudian membagi ongkos tersebut sama besar, yaitu tiap anak mendapat Rp 6.000, Ibu tersebut justru menjadi tidak adil.

Permisalan di atas semoga tidak disalahartikan. Dengan pemisalan itu, bukan berarti penulis menganggap bahwa kaum perempuan adalah kaum yang lebih kecil dan lemah daripada laki-laki (bagai kakak beradik yang terpaut jauh usianya). Sama sekali bukan itu maksudnya. Contoh di atas hanya berusaha menjelaskan konsep keadilan, yaitu bahwa keadilan tidak selamanya harus diterapkan secara equal (sama rata), tapi ada juga adil yang equity (proporsional). Bukan adil namanya jika kaum perempuan ikut-ikutan meracik semen, pasir, dan batako untuk membangun rumah seperti yang para lelaki lakukan. Adil adalah, manakala perempuan “menservis” laki-laki dengan makanan yang enak untuk memasok tenaga mereka.

Kesalahkaprahan dalam mendefinisikan konsep “adil” pada akhirnya mengaburkan orientasi dan tujuan dari gerakan ini. Gerakan yang semula bertujuan menuntut kesetaraan, kemudian berubah arah menuju penuntutan kekuasaan. Mereka ingin menjadi pemimpin, yaitu pemimpin yang tidak hanya mengomandoi kaum Hawa, tapi juga kaum Adam. Buntutnya, di Barat terjadi penuntutan kekuasaan yang kebablasan oleh kaum perempuan. Fenomena yang termasyhur adalah ketika seorang wanita bernama Amina Wadud (aktivis feminis dari USA) mengangkat dirinya menjadi imam sholat bagi kaum laki-laki, bahkan juga menjadi khotib pada khutbah sholat Jum’at.

Hal ini tentu sudah sangat keterlaluan karena pada dasarnya Allah sendiri telah mengangkat kaum laki-laki untuk menjadi pemimpin bagi kaum perempuan. Hal itu tertuang dalam ayat al-Qur’an berikut ini:

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita…” (Terjemahan Q.S. An-Nisaa (4): 34).



View the
Original article

Perempuan Dalam Perspektif Islam #2: Kedudukan Perempuan di Barat

on

Islam, sejak awal kemunculannya di abad ke-7 Masehi, sebenarnya telah menjawab berbagai permasalahan di tiap aspek kehidupan, termasuk permasalahan yang diangkat oleh kaum feminis, yaitu kesetaraan gender. Akan tetapi, karena tidak semua orang tahu dan mau tahu dengan ajaran Islam, maka semua solusi yang Islam tawarkan menjadi sia-sia.

Jika dipahami dari latar belakang sejarahnya, menggeloranya gerakan feminisme, khususnya di Barat, sebenarnya terjadi akibat penistaan yang menimpa perempuan. Penistaan itu dilakukan sejak masa jahiliyah, jauh sebelum kedatangan Islam sampai dengan masa revolusi industri. Pada masa itu, kaum perempuan pada berbagai peradaban di dunia tidak lebih dianggap sebagai komoditas, alat pemuas nafsu yang diperjualbelikan sebagaimana hewan ternak (Patel, 2005).

Bahkan, Aristoteles yang merupakan filsuf besar Yunani pun pernah mengatakan “… dengan demikian kita dapat menyimpulkan bahwa menurut hukum alam, harus ada unsur yang secara alamiah memerintah dan harus ada unsur yang secara alamiah diperintah … Kekuasaan orang-orang yang bebas terhadap para budak adalah salah satu bentuk hukum alam; demikian pula kekuasaan kaum lelaki atas kaum perempuan … Para budak sama sekali tidak mampu memberikan pertimbangan, sedangkan kaum perempuan memang mampu, tetapi dalam bentuk yang tidak pasti” (Patel, 2005).

Orang-orang Yunani memposisikan kaum perempuan pada kasta ketiga (kasta yang paling bawah) dari masyarakat (Patel, 2005). Hal itu dikarenakan adanya keyakinan bahwa sesungguhnya wanita adalah penyebab penderitaan dan musibah bagi seseorang (Al-Istambuli, 2006).

Apabila seorang perempuan melahirkan anak yang cacat, biasanya ia akan dihukum mati.  Orang-orang Yunani juga umumnya menganggap bahwa kaum perempuan adalah makhluk yang tidak berarti, yang tidak akan dikasihi oleh para dewa (Patel, 2005).

Berbeda lagi pandangan dari kaum Yahudi. Kaum Yahudi ortodoks yang mempelajari ajaran klasik Yahudi akan mendapati bahwa ada di antara ajaran dan aturan Yahudi yang dinilai menindas kaum perempuan. Talmud, sebuah kitab yang berisi aturan-aturan dalam kehidupan pribadi dan peribadatan menyatakan “Mustahil ada sebuah dunia yang tanpa ada keberadaan kaum lelaki dan perempuan. Namun demikian, berbahagialah orang-orang yang mempunyai anak laki-laki, dan celakalah orang-orang yang mempunyai anak perempuan” (Patel, 2005).

Bangsa Prancis yang kita kenal sebagai bangsa yang modern dan berpendidikan pun pernah mengeluarkan resolusi (tahun 586 M) yang isinya mencoba untuk menunjukkan “kemurahan” dan “keberadabannya”. Resolusi yang dikeluarkan setelah melalui pertimbangan dan perdebatan yang panjang itu menyatakan bahwa “perempuan dapat diklasifikasikan sebagai manusia, namun demikian ia diciptakan semata-mata untuk melayani kaum laki-laki” (Patel, 2005).

Bangsa Inggris pun ternyata tidak jauh berbeda dengan bangsa Prancis. Hukum Inggris menetapkan bahwa dalam ikatan perkawinan, seorang perempuan akan kehilangan hak-hak yang dia miliki saat ia masih belum terikat pernikahan. Seluruh harta kekayaannya berpindah kepada suaminya, sehingga diri dan hartanya berada dalam kekuasaan penuh suaminya. Seorang suami bahkan tidak perlu bertanggung jawab kepada istrinya. Sang istri tidak dapat mengeluarkan harta miliknya, atau membuat perjanjian bisnis atas nama dirinya, dan juga tidak dapat menuntut maupun dituntut. Secara praktis, pernikahan sama artinya dengan saat kematian hak-hak sipil seorang perempuan (Patel, 2005).

Penomorduaan derajat perempuan terus terjadi hingga masa revolusi industri. Pada masa itu, derajat kaum perempuan juga sangat rendah karena mereka dianggap sebagai pihak yang tidak memberikan sumbangsih terhadap negara sebab mereka tidak bekerja. Sebaliknya, kedudukan pihak laki-laki sangat tinggi karena mereka bekerja, yang dengan pekerjaannya itu negara mereka menjadi maju.

Dari uraian di atas, kita dapat mengetahui bagaimana kedudukan perempuan yang sangat rendah dan lemah di mata bangsa Barat. Jika mayoritas bangsa di Barat memerlakukan perempuan seperti itu, maka wajar kiranya jika di kemudian hari mereka berontak dan menuntut persamaan hak, seperti yang terjadi pada kasus gerakan feminisme ini. Sayangnya, para aktivis feminis ini melakukan kesalahan mendasar dimana mereka menyangka bahwa semua wanita di dunia diperlakukan sama dengan mereka, padahal perlakuan seperti itu tidak pernah dan tidak akan pernah mereka temui dalam konsep hidup Islam.

Referensi:

Al-Istambuli, M. M., dan Asy-Syalabi, M. A. N. 2006. Sirah Shahabiyah Kisah Para Sahabat Wanita. Pekalongan: Maktabah Salafy Press.

Patel, I. A. 2005. Perempuan, Feminisme, dan Islam. Bogor: Pustaka Thariqul Izzah.



View the
Original article

Manfaat Kurma Dalam Islam

on Wednesday, January 2, 2013

Umat Islam pada umumnya berbuka puasa dengan memakan buah kurma. Nabi Muhammad (Sallallahu Alaihi Wasallam) diriwayatkan bersabda: “Jika seseorang diantara kamu berpuasa, hendaklah ia berbuka dengan buah kurma. Sekiranya buah kurma tiada, bolehlah ia berbuka dengan air. Sesungguhnya air itu bersih lagi suci.”

Nabi Muhammad SAW lazim berbuka puasa dengan memakan beberapa buah kurma sebelum beribadah sholat Maghrib, dan jika buah kurma yang masak tidak tersedia, beliau biasa menggantinya dengan beberapa buah anggur kering. Ketika anggur kering juga tidak tersedia, beliau berbuka dengan meminum beberapa teguk air, menurut beberapa riwayat. Ilmu pengetahuan modern telah membuktikan bahwa buah kurma merupakan bagian dari diet sehat. Kurma mengandung gula, lemak, dan protein, serta vitamin-vitamin penting. Oleh karena itu banyak sekali manfaat penting yang berkenaan dengan kurma menurut Nabi Muhammad SAW.

Kurma juga kaya akan serat alami. Obat modern telah menunjukkan bahwa kurma efektif dalam mencegah kanker perut. Buah kurma juga mengungguli tipis buah-buahan lainnya dalam keanekaragaman unsur pokoknya. Kurma mengandung minyak, kalsium, belerang, besi, kalium, fosfor, mangan, tembaga, dan magnesium.

Dengan kata lain, satu kurma adalah diet minimal yang seimbang dan menyehatkan. Orang Arab biasanya menggabungkan buah kurma dengan susu dan yogurt atau roti, mentega, dan ikan. Kombinasi ini memang membuat diet yang cukup dan enak baik untuk pikiran juga tubuh. Kurma dan pohon kurma telah disebutkan di dalam Al-Qur’an lebih dari 20 kali, dengan demikian hal itu menunjukkan pentingnya buah kurma. Nabi Muhammad SAW mengibaratkan seorang Muslim yang baik seperti kurma, beliau mengatakan, “Diantara pepohonan itu, ada pohon yang seperti seorang Muslim. Daun-daunnya tidak jatuh.”

Sayyidah Maryam (Perawan Suci) ibu Nabi Isa AS telah memakan buah kurma sebagai makanannya ketika dia kesakitan saat melahirkan dan selama persalinan. Kurma pastilah “mahkota manisan,” makanan ideal yang mudah dicerna, dan dalam setengah jam setelah mengonsumsinya, tubuh lelah akan mendapatkan kembali tenaga baru. Alasannya adalah bahwa kekurangan gula dalam darah merupakan faktor utama yang membuat orang merasa lapar dan bukanlah perut kosong seperti yang sering diasumsikan. Ketika tubuh menyerap nutrisi pokok dari beberapa kurma, rasa lapar menjadi mereda. Bila seseorang berbuka puasa dengan beberapa buah kurma lalu mengonsumsi sedikit makanan lain setelahnya, dia tidak akan bisa makan terlalu banyak. Tampaknya bahwa berbuka puasa dengan beberapa buah kurma akan membantu seseorang menghindari makan berlebihan.

Eksperimen juga menunjukkan bahwa kurma mengandung beberapa stimulan yang memperkuat otot-otot rahim pada bulan-bulan terakhir kehamilan. Di satu sisi buah kurma membantu melebarkan rahim pada saat kelahiran dan mengurangi perdarahan setelah melahirkan di sisi yang lain. Ahli diet menganggap kurma sebagai makanan terbaik bagi perempuan dalam persalinan dan bagi mereka yang menyusui. Hal ini dikarenakan buah kurma mengandung unsur-unsur yang membantu mengurangi depresi pada ibu serta memperkaya ASI dengan semua unsur yang dibutuhkan untuk membuat anak sehat dan tahan terhadap penyakit. Nabi Muhammad SAW telah menekankan pentingnya kurma dan mujarabnya dalam pertumbuhan janin. Beliau juga telah merekomendasikan kurma untuk diberikan kepada para perempuan. Lembaga diet modern kini merekomendasikan buah kurma untuk diberikan kepada anak-anak yang menderita kegelisahan atau hiperaktif. Nabi Muhammad SAW juga telah merekomendasikan buah kurma sebagai obat untuk penyakit jantung, menurut beberapa riwayat. Ilmu pengetahuan modern telah membuktikan pula kemujaraban buah kurma, dalam mencegah penyakit pada sistem pernapasan.

Sayyidah Aisyah RA istri Nabi Muhammad SAW biasa meresepkan buah kurma bagi mereka yang menderita pusing. Sekarang diketahui bahwa penurunan kadar gula dalam darah dan tekanan darah rendah adalah beberapa di antara penyebab pusing. Beliau juga diriwayatkan terbiasa mengonsumsi kurma yang dikombinasikan dengan ketimun untuk mengobati tubuhnya yang terlalu kurus. Beliau berkata, “Mereka (juga Ibunya) sudah mencoba untuk menggemukkan saya dengan memberi saya segalanya. Tetapi saya tidak menjadi gemuk. Kemudian mereka menggemukkan saya dengan ketimun dan buah kurma masak dan saya mendapatkan bentuk idealnya!” Aisyah sungguh benar, seperti yang kita tahu sekarang bahwa satu kilogram kurma mengandung hampir 3.000 kalori yang dengan sendirinya sudah cukup memasok kebutuhan minimum harian seorang pria aktif selama satu hari penuh.

Buah kurma kaya akan beberapa vitamin dan mineral. Ketika kadar mikro mineral sedikit menurun dalam tubuh, kesehatan pembuluh darah terpengaruh yang menyebabkan pada meningkatnya detak jantung dan mengakibatkan ketidakmampuan untuk menjalankan fungsinya dengan efisiensi yang normal. Seperti kurma yang juga kaya akan kalsium, kurma membantu memperkuat tulang. Ketika kandungan kalsium dalam tubuh menurun, anak-anak berpotensi menderita rakhitis dan tulang orang dewasa menjadi rapuh dan lemah.

Kurma juga penting dalam menjaga kesehatan mata. Kurma sangat efektif melindungi mata terhadap rabun ayam. Pada tahun-tahun awal Islam, buah kurma disajikan sebagai makanan bagi para pejuang Muslim. Mereka biasa membawanya dalam tas khusus yang tergantung di pinggang mereka. Kurma merupakan stimulan terbaik bagi otot dan menjadi makanan terbaik untuk seorang prajurit yang akan berperang.

Nabi Muhammad SAW terkadang menggabungkan buah kurma dengan roti. Di lain waktu beliau mencampur buah kurma yang masak dengan ketimun, atau kurma yang dikombinasikan dengan ghee (mentega yang dimurnikan). Beliau biasa mengonsumsi semua jenis kurma, tetapi beliau lebih menyukai kurma yang disebut Ajwa.

You can also read this article in English Here

About the author

tieefadunq

• A mix of foodie • blogger • talker • designer • master of ceremony •



View the Original article

Konsep Riba dalam Islam

on Friday, December 14, 2012

Konsep riba dalam Islam merujuk kepada keuntungan ekstra yang diperoleh oleh salah satu pihak tanpa ada usaha atau pun tambahan pelayanan sebagai kompensasi dari keuntungan yang dia dapat. Istilah riba dalam Islam adalah sebuah harga ekstra yang harus dibayar oleh pihak yang meminjam ketika mengembalikan kepada pihak yang memberi pinjaman.

Berdasarkan petunjuk dan ajaran yang ada dalam kitab suci al-Quran dan sunnah, riba dalam Islam sangatlah dilarang. Sementara tidak ada keraguan bahwa bahwa kebanyakan pertumbuhan ekonomi di dunia ini dipengaruhi oleh riba. Tapi sebagai seorang Muslim kita harus mengutuk kejahatan ini dalam segala bentuknya. Nabi Muhammad Saw telah memperingatkan kita tentang pengakuan global terhadap riba ini sejak ratusan tahun yang lalu. Karena itu, kita harus menyelediki terlebih dahulu sebelum memilih model pembayaran untuk semua transaksi perorangan maupun bisnis; apakah ini riba atau tidak.

Konsep Riba dalam Islam

“Abu Hurairah (Radiyallahu ‘anhu) meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda: akan datang suatu masa di mana tidak ada orang yang tidak memakan riba. Dan jika dia tidak memakannya, uap (riba) pun akan mengejarnya” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Nasai, dan Ibnu Majah)

Riba dalam Islam

Riba dalam Islam dianggap sebagai sesuatu yang melanggar hukum, bertentangan dengan prinsip perdagangan. Allah Swt berfirman:

“Mereka yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang memasukkan setan lantaran penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata, sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu berhenti (mengambil riba), maka bagi mereka apa yang telah diambilnya dahulu (mereka akan dimaafkan atas apa yang pernah mereka lakukan di masa lalu). Da urusannya terserah pada Allah. Orang yang mengulangi riba, maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah: 275)

Melakukan riba dalam Islam dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana dijelaskan dalam ayat:

“Wahai orang-orang beriman bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) aka ketahuilah, bahwa Alla dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu. Kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya (dirugikan). (QS. Al-Baqarah: 278-279)

Nabi Muhammad Saw juga telah memperingatkan kita untuk menjauh dari riba maupun bunga. Riba dalam Islam hukumnya haram dan melanggar hukum, dan semua yang terlibat dalam riba dengan cara apa pun adalah berdosa.

“Jabir bin Abdullah RA menceritakan bahwa Nabi mengutuk penerima bunga dan pembayarnya, orang yang mencatat, dan dua saksinya. Nabi mengatakan: mereka semua sama (dalam dosa).” (HR. Muslim dan Tirmidzi)

“Aun bin Abu Juhaifah RA meriwayatkan, “Ayahku membeli seorang budak yang mempunyai kemampuan membekam, (kemudian ayahku merusakkan alat bekam budak tersebut). Lalu aku bertanya kenapa dia melakukannya. Dia menjawab “Nabi melarang kita menerima harga anjing atau darah, dan juga melarang profesi pembuat tato, ditato, serta menerima dan memberi riba, serta mengutuk pembuat gambar.” (Sahih Bukhari)

Adalah kewajiban bagi setiap Muslim untuk mengikuti petujuk ini.

You can also read this article in English Here

 



View the
Original article

Nabi Yusuf dalam Islam

on

Dia adalah anak dari Ya’qub AS (‘alaihissalam) dan cucu dari Ishak AS. Dia adalah adalah anak kedua termuda (masih punya satu adik) dari 12 bersaudara dan merupakan anak kesayangan ayahnya.

Suatu hari, dia bermimpi bahwa ada sebelas planet, matahari, dan bulan yang bersujud di depannya. Ketika ayahnya mengetahui mimpi ini, dia menafsirkan bahwa arti dari mimpi itu adalah bahwa Allah akan memilih Yusuf AS, akan mengajarinya menafsirkan mimpi, dan akan menyempurnakan rahmat-Nya kepada Yusuf. Tapi Ya’qub memperinatkan Yusuf AS agar tidak menceritakan mimpinya pada saudara-saudaranya, karena mereka akan sangat iri dan mungkin ingin mecelakainya.

Nabi Yusuf dalam Islam

Kaka-kakaknya tentu saja merasa pada Yusuf AS dan adiknya. Mereka merasa bahwa jika Yusuf tidak ada, ayah mereka akan lebih menyayangi mereka. Beberapa di antara kakak-kakak Yusuf ingin membunuhnya, dan beberapa yang lain ingin membuangnya ke tempt yang jauh. Salah seorang di antara ereka mengusulkan untuk meninggalkannya dalam lubang sehingga kafilah akan mengambil dan membawanya ke tempat yang jauh. Itu adalah rencana yang  akhirnya mereka setujui.

Nabi Yusuf dalam Islam

Saudara-saudara Yusuf mendatangi ayah mereka dan meminta ijin untuk mengajak Yusuf AS ke padang rumput bersama mereka hari berikutnya, sehingga ia bisa puas bermain dan bersenang-senang. Pada awalnya Ya’qub AS menolak, karena dia takut Yusuf AS akan dimakan serigala. Tapi saudara-saudaranya meyakinkan Ya’qu bahwa serigala tidak akan memiliki kesempatan menang melawan mereka yang begitu banyak. Akhirnya Ya’qub setuju Yusuf pergi bersama mereka.

Hari berikutnya, saudara-saudara Yusuf pergi meninggalkannya di dasar lubang yang dalam. Allah mewahyukan pada Yusuf AS pada saat itu bahwa suatu hari dia akan mengingatkan saudara-saudaranya aka peristiwa ini, ketika mereka sudah tidak mengenali Yusuf lagi. Setelah saudara-saudaranya menjauh dari lubang, datang satu kafilah yang menjulurkan ember untuk mencari air di dalam lubang. Kemudian anggota kafilah tadi terkejut karena menemukan seorang anak yang sehat. Yusuf AS kemudian dibawa untuk dijual sebagai budak. Penjual budak menghargai Yusuf sangat rendah dan menjualnya untuk uang yang sangat sedikit.

Sementara itu, saudara-saudara Yusuf menodai baju Yusuf dengan darah binatang dan kembali sambil menangis dan meratap pada ayahnya, mengarang cerita bawa Yusuf dimakan serigala yang telah berasil melewati mereka. Ayah mereka menyadari bahwa kesedihan mereka palsu, dan berdoa pada Allah untuk membantunya menanggung kesedihan karena kehilangan Yusuf AS.

You can also read this article in english Here

 



View the
Original article

Mengapa Al Qur’an Diturunkan Dalam Bahasa Arab? (part 3)

on Monday, November 5, 2012

Pada artikel sebelumnya, saya telah mencoba menunjukkan mengapa bahasa Arab adalah bahasa yang ideal dalam penurunan wahyu Al Qur’an.

Akar kata terakhir dari ayat adalah عقل (‘ql). Sungguh, Kami telah menurunkannya sebagai Al Qur’an dalam bahasa Arab agar kamu memahaminya.

Sebelum melihat artinya, dari ayat itu sendiri kita bisa menyimpulkan bahwa disana ada tujuan yang akan dicapai oleh kumpulan bagian-bagian beserta artinya yang diekspresikan dalam bahasa yang jelas dan berbeda. Ini, fakta bahwa Al Qur’an diturunkan dalam bagian-bagian yang disampaikan dalam bahasa yang memungkinkan pembedaan antara bagian-bagian tersebut adalah cara Tuhan memilih untuk mengarahkan para umat menuju sebuah pemahaman. Tapi, pemahaman seperti apa yang sedang kita bicarakan ini?

Arti utama dari akar kata عقل (‘ql) adalah menahan, mengendalikan, yang menunjuk pada apa yang juga kita temukan bahwa عقل (‘ql) juga berarti nama sebuah tali yang digunakan untuk mengikat kaki-kaki onta sehingga mereka tidak bisa bergerak. Dari sinilah kita akan mulai: gagasan bahwa sesuatu itu di kendalikan, didirikan secara tetap di suatu tempat. Lalu, apakah ada hubungannya antara gagasan mengendalikan sesuatu ini dengan pemahaman?

Pertama-tama, mari kita melihat bahasa Inggris understanding(pemahaman)… ini berasal dari stand (berdiri), yang mana, ternyata berasal dari bahasa Latin sto, yang artinya secara umum adalah berdiri, lawan dari duduk, berjalan, atau berbaring. Jadi sto berarti untuk berdiri di tempat, berdiri tetap atau tidak berpindah-menegaskan hubungan antara pemahaman dan ketidakberpindahan. Tapi, bayangkan seseorang bertanya “tapi bagaimana dengan ‘under’ (dibawah) – mengapa itu muncul sebelum gagasan remaining still (diam)?; dan apa hubungannya dengan understanding (pemahaman)?”ini adalah pertanyaan yang sungguh menarik…

Sebagai preposisi, under (dibawah) menunjuk pada posisi yang lebih rendah yang diambil dalam menunjukkan sesuatu yang berada diatas – jika pada yang diatas kita menyebutnya surface (permukaan), menjadi di bawah berarti menjadi di bawah permukaan. Sekarang orang tersebut menyanyakan “Oh, mungkin ini mengapa ‘under’ umumnya dihubungkan dengan inferioritas atau penaklukan…” dan kita akan mengatakan: itu hanya terjadi jika anda berhenti melihat ke permukaan… Pernahkan anda berpikir bahwa untuk menjadi kuat, setiap bangunan membutuhkan pondasi? Dan pondasi itu adalah sesuatu yang berdiri di bawah bangunan? jadi, meskipun beradai di bawah permukaan, tidak terlihat, pondasi pada kenyataannya adalah dasar atas apa yang membuat bangunan itu berdiri. Lebih lanjut, pondasi adalah permulaan, yang sangat banyak, sehingga menegakkan dasar adalah untuk membangun sesuatu, yang mana, memberikan kelahiran pada hal tersebut. Contohnya, ingat bahwa setiap saat orang membicarakan tentang prinsip-prinsip dalam masyarakat? Apa yang menurut anda mereka arahkan? Bukan apapun melainkan konsep-konsep dasar yang padanya masyarakat dibangun – dan kenyataan bahwa dasar itu tidak berarti rendah, sebaliknya… Dan ini tepatnya dengan konsepnya yang sangat ditinggikan oleh preposisi yang dengannya kata sto berhubungan. Karena analisis ini, under (di bawah) kemudian berguna untuk menekankan ide dari kepastian sebagai kualitas yang tidak mungkin terlihat jika seeorang terbiasa untuk hanya melihat pada permukaan.

Sekarang, mari kita memperlebar analisis dengan memasukkan satu arti lain yang terkandung pada akar kata: things that are perceived by the intellect (hal-hal yang dimengerti oleh para ahli). Dari yang telah kita lihat di atas, dan untuk tetap menjaga kesinambungan, kata kerja perceive (melihat/mengerti) harus dihubungkan dengan gagasan dari menahan, atau menjadikan tidak bergerak. Marik kita ambil sumber kata dalam bahasa Inggris, dalam bahasa Latin percipio, yang berarti to take possession of, to gather, collect (untuk mengambil kepunyaan, mengumpulkan, menghimpun). Ingat lego – untuk membaca sebagai plihan dari buah yang anda petik dari pohon? Sekarang kita membahasnya sekali lagi… Tetapi sekarang sesuatu telah ditambahkan ke dalam pilihan tersebut- memetik, dan nyatanya bahwa anda telah mengambil kepemilikan darinya, yang mana, anda telah menguasai buah tersebut untuk diri anda sendiri. Dari ide memiliki sesuatu yang telah dikumpulkan ini, percipio pun bersifat metafora dalam menunjukkan to understand, comprehend (untuk memahami, mengerti). Jika anda masih belum teryakinkan bahwa percipio adalah salah satu jalan dari mempertahankan, maka izinkan saya menambahkan bahwa itu berasal dari capio, to take in hand, seize, grasp (untuk mendapatkan dalam genggaman, menangkap, menggenggam); digunakan dalam hubungan dengan kehidupan makhluk yang berarti to take captive, to catch (by hunting) (untuk menawan, mengangkap (dalam berburu)).

Pada akhirnya, kita mengatakan menghargai عقل – pemahaman, ini sudah jelas bahwa ini adalah pemahaman yang berdasarkan pada apa yang dilihat, retensi intelek dari bagian-bagian yang telah dipetik dari keseluruhan. Tetapi intelek tidak hanya menahannya – mereka juga membawanya bersama-sama.. Saya akan mencoba membuktikan bahwa faktanya intellect berasal dari kata intellego (untuk memahami, mengerti, membenarkan apa pun), yang mana terbentuk dengan preposisi inter dan lego… Ya, ini adalah lego yang sama.. dan lagi, ingat bahwa ini menunjukkan kepada kita bahwa mengumpulkan bersama mungkin juga sama dengan pilihan? Sekarang, ketika didahului oleh inter, lego dapat menunjukkan pada timbal-balik, hubungan dua arah yang bisa kita temukan dalam hal-hal yang kita pilih. Dan ketika hal-hal tersebut berbagi hubungan-hubungan, mereka membawanya bersama-sama. Lebih dari itu, mereka saling terkait, bertalian, bersama…. Ingat rangkaiannya?

You can also read the English article here



View the
Original article

Mengapa Al Qur’an Diturunkan Dalam Bahasa Arab? (part 2)

on Sunday, November 4, 2012

Pada artikel sebelumnya, saya telah mencoba menunjukkan bahwa Al Qur’an tidak hanya sebuah kumpulan ayat-ayat dalam satu buku…

Sekarang kita akan melihat akar dari bahasa Arab itu sendiri, عرب (‘rb), telah menunjukkan pada kita yang kemungkinan menjelaskan pada kualitas yang membimbing saya untuk berhipotesis bahwa kita sedang berurusan dengan bahasa yang special.
Arti pertama dalam عرب yang akan menyita perhatian anda terhadapnya adalah “tidak melakukan kesalahan apapun dalam berbahasa, mengekspresikan makna yang jelas, dengan berbeda, dengan demikian membuat semuanya menjadi jelas, terang, dan berbeda. Sebagai berikut, Al Qur’an diturunkan dalam bahasa yang telah memberikan kekuatan untuk mengekspresikan arti-arti secara jelas dan berbeda.

Sudahkah anda melihat pasangan yang dibentuk oleh bentuk kata keterangan dari jelas dan berbeda? Kita semua mengetahui arti dari kata jelas, dan dalam derajat yang lebih tinggi ataupun lebih rendah kita secara umum dapat berbicara dengan jelas, atau paling tidak mencoba untuk melakukannya.

Tetapi apakah kita sangat yakin dengan arti kata berbeda? Apakah cukup dengan menjawab bahwa sesuatu itu dengan nyata diekspresikan ketika kita membedakannya dari hal-hal lainnya?; atau apakah dengan mengatakan bahwa kita membedakan ketika kita memisahka, ketika kita membagi, akan membantu?

Mengapa Al Qur’an Diturunkan Dalam Bahasa Arab

Ini jelas merupakan logika figuratif dari bahasa latin distinguo (dari kata inilah distinct terbentuk), berarti untuk memisahkan, membagi, melepas, menunjukkan: jika kita ingin membedakan hal-hal kita harus bisa memisahkannya. Pendeknya, saya akan mengatakan bahwa mengekspresikan arti-arti dengan berbeda yang dimungkinkan oleh bahasa Arab itu secara esensial koheren dengan fakta bahwa al Qur’an disusun dari bagian-bagian. Dengan kata lain, jika قرا (qr’) menitikkan pada keberadaan bagian-bagian yang disusun bersama, عرب menekankan fakta bahwa bagian-bagian tersebut diekspresikan secara berbeda, sangat nyata sehingga tidak ada kesalahan yang bisa ditemukan dalam kumpulan tersebut. Jadi, kedua akar kata tersebut berhubungan, karena keduanya berusaha memberikan kita gagasan dari sebuah hubungan yang tertata, logis, dan konsisten dari bagian-bagian.

Sekarang, mari kita lanjutkan untuk mencoba memahami mengapa عرب juga berarti air yang melimpah. Apakah anda melihat hubungan antara sesuatu yang berbeda, mudah untuk dimengerti, dan air yang melimpah? Anda tahu bagaimana hujan turun dari langit bukan? Hujan turun dalam tetesan yang berturut-turut, terpisah, dan berbeda. Ketika mereka sampai di tanah untuk kemudian diserap oleh tanah ataupun tetap berada di permukaan, mereka akan berkumpul, membentuk aliran yang kurang lebih sama seperti asalnya. Ketika anda melihat aliran tersebut, anda tidak melihat tetesan, karena mereka berkumpul bersama menjadi sebuah keseluruhan yang sempurna sehingga membuat anda lupa bahwa anda sebenarnya melihat bertemunya kembali ribuan tetes-tetes air.

Jadi, adalah mungkin untuk membayangkan bahasa Arab sebagai sesuatu yang dapat menciptakan sebuah aliran, arus yang terbentuk dari banyak kata-kata berbeda yang kumpulannya itu melambangkan air yang melimbah, yang mana adalah kesuburan, kemurahan hati. Dan itu tepatnya adalah apa yang disebut Al Qur’an. Lebih jaunhnya, saya pikir bahwa untuk mensintesiskan aspek tertentu dari Al Qur’an ini saya hanya harus meminta anda untuk mengingat bahwa Tuhan menggunakan نزل (nzl) untuk menjelaskan wahyu dan air yang Dia kirim dari langit.

Pada bagian ketiga, kita akan mencoba memahami arti dari kata “pemahaman”….

You can also read the English article here



View the
Original article

Mengapa Al Qur’an Diturunkan Dalam Bahasa Arab? (part 1)

on Saturday, November 3, 2012

Untuk pertanyaan ini, saya pikir kebanyakan orang akan menjawab bahwa karena bahasa Arab adalah bahasa yang digunakan dan dimengerti oleh Nabi Muhammad saw. Meskipun saya tidak menyangkal jawaban itu, tapi menurut saya kita bisa melihat lebih jauh. Menjadi sebuah wahyu yang ditujukan kepada seluruh umat, saya pikir ini wajar untuk berpendapat bahwa ada kemungkinan sesuatu yang spesial mengenai bahasa Arab yang telah memungkinkannya dipilih oleh Tuhan. Dan untuk membuktikannya saya mengajak Anda untuk bersama-sama menelusurinya. Kalau Anda mau, kita akan menuruti ayat kedua dari bagian 12 – “Sesungguhnya, kami telah menurunkan wahyu ini dalam bahasa Arab sehingga kamu memahaminya”.

Bagi mereka yang tidak familiar dengan bahasa Arab, ini akan membantu mereka mengetahui bahwa kata “Qur’an” berasal dari akar kata قرا (qr’). Arti pertama dari akar kata tersebut adalah untuk mengumpulkan, sebagian demi sebagian, yang mana menunjukkan kepada kita, Al Qur’an sebagai sebuah kumpulan dari bagian-bagian, elemen-elemen yang berbeda yang disatukan sehingga membentuk sebuah buku. Tapi kita akan menambahkan beberapa detail ke dalam asumsi yang agak sederhana ini…

Kita akan tuangkan dalam hal yang lebih detail dengan menyebut bahasa Latin “colligo” (yang dari kata ini, bahasa Inggris “collect” dan “collection” berhubungan), yang berarti untuk mengumpulkan atau mengumpulkan bersama menjadi satu, untuk menghimpun; contohnya digunakan dalam bahasa militer, untuk menggambarkan perkumpulan tentara. Tetapi arti yang paling menarik datang dari salah satu penggunaan metaforanya, dimana kita menemukan bahwa kata “colligo” berarti untuk meletakkannya bersama di dalam pikiran, untuk berpikir akan/pada. Tidakkah Anda setuju bahwa ini menambahkan pemahaman yang lebih baik untuk pertimbangan apa itu arti Al Qur’an sebagai sebuah kumpulan dari bagian-bagian? Ini memungkinkan kita untuk tetap melihat kitab suci Al Qur’an sebagai permukaan yang daripadanya dikumpulkanlah ayat-ayat dan juz-juz, tetapi itu juga mendorong kita untuk mempertimbangkan kebutuhan untuk menempatkan bagian-bagian tersebut terkumpul dalam pikiran kita melalui penalaran.

Sekarang kita akan menuju akar makna lain yang harus kita renungkan, “membaca”.
Apa kaitan antara membaca daengan mengumpulkan bersama bagian-bagian yang terpisah? Jawabannya terlihat mudah… ketika seseorang membaca, dia membawa keseluruhan tidak hanya huruf-huruf, tetapi juga kata-katanya sebagaimana kalimat-kalimat secara keseluruhan. Tetapi, mari kita mencoba untuk mendapatkan lebih banyak detail… Ambil kata kerja Latin “lego”: membawa, mengumpulkan, mengumpulkan bersama, umumnya digunakan sebagai penunjuk. Contohnya, untuk mengumpulkan buah-buahan atau bunga-bungaan, yang mana menambahkan “colligo” gagasan “mengambil”, “memilih”. Dengan kata lain, “mengumpulan bersama dengan memilih” membawa pada ide “ekstraksi”, “penghapusan”.

Saya anggap Anda telah mengambil hasilnya dari sini… Jika sudah, Anda tahu bahwa Anda tidak memilihnya secara diskriminatif seperti jika Anda dalam keadaan mata tertutup, dan semua yang Anda perlu lakukan adalah menggenggam semua keuntungan tersebut. Ketika Anda memanen buah dari pohonnya, Anda memilih apa yang Anda petik, begitulah, anda memilih salah satu yang paling menarik bagi anda. Dengan kata lain, ketika Anda memetik buah dari pohonnya, Anda mengambil salah satu yang telah Anda pilih dari seluruh buah yang menggantung pada pohon tersebut.

Sekarang, disamping itu, lego berarti membaca, yang cukup penasaran, sebagaimana kata ini memungkinkan kita tidak hanya untuk melihat perbuatan membaca sebagai pengumpulan huruf-huruf dan kata-kata bersama, tetapi juga untuk melihat perbuatan tersebut yang berarti memilih bagian-bagian untuk membentuk keseluruhan.

Sekarang mari kita bawa Al Qur’an… Ketika Anda membaca pembukaan Al Qur’an dari juz 1 sampai akhir, Anda sedang memanfaatkan kumpulan yang telah terorganisasi, terkumpul, setelah penurunan wahyu tersebut. Tetapi, mengapa tidak mencoba untuk memilih bagian-bagian, ayat terpisah, dan kemudian mencoba untuk membawanya bersama-sana dengan bantuan kemampuan Anda? Anda hanya perlu memahami apa yang telah Anda pilih dan pertahankan itu dan kumpulkan dalam kecerdasan Anda melalui penalaran. Siapa tahu…mungkin Anda akan melihat setiap ayat terpisah ini sebagai butiran mutiara yang darinya sangat mungkin membentuk untaian hingga menjadi sebuah kalung… untaian tersebut menjadi pemahaman anda dari pilihan yang telah anda buat…

Pada bagian kedua dari artikel ini kita akan menganalisis akar dari bahasa Arab itu sendiri, عرب (‘rb).

You can also reas the English article here



View the
Original article

Etika Dalam Islam: 4 – (Seni Memberi Nasihat)

on Sunday, September 2, 2012

Etiquette in Islam: 4-(The Art of Giving Advice)

Tiada apa yang lebih menyakitkan selain daripada mendengar seseorang “memandikan”anda dengan nasihat tentang apa yang anda perlu lakukan dan yang tidak perlu lakukan! Dan tiada apa yang lebih memalukan selain daripada memberikan nasihat kepada seseorang yang kemudiannya kembali memberi nasihat kepada anda! Apa yang kita benar-benar benci dalam situasi berkenaan adalah bukannya nasihat tersebut, tetapi adalah “cara” kita memberi nasihat yang menyebabkan nasihat kita tidak diketepikan. Memandangkan Islam merupakan agama yang beretika, ia menyediakan kita dengan adab seni memberi nasihat kepada seseorang tanpa sebarang sindiran atau maksud-maksud tertentu   Berikut adalah beberapa nasihat tentang cara bagaimana untuk memberi nasihat:

  • Belas kasihan. Adalah amat payah untuk anda memberi nasihat kepada seseorang yang anda tidak tahu banyak mengenainya. Rakan yang turut mengalami obesiti, yang anda fikir kuat makan, boleh menghadapi beberapa masalah psikologi. Jadi, antara adab yang paling penting dalam seni memberi nasihat adalah dengan mempunyai hubungan yang baik dengan orang yang anda sedang berikan nasihat, supaya nasihat anda diterima atau dipertimbangkan.
  • Berkelakuan Baik. Tidak akan dipanggil seni jika seseorang yang memberikan nasihat tersebut tidak mempunyai kelakukan yang baik. “… Kamu (Muhammad) haruslah berlembut dengan mereka. Dan jika anda telah biadap [dalam ucapan] dan keras di tengah-tengah ucapan tersebut, maka mereka tidak akan mendengar pendapat atau nasihat daripada anda … “(3:159). Jadi, apabila anda memberi nasihat letakkan diri anda dalam fikiran orang yang anda sedang nasihatkan tersebut. Adakah anda akan mendengar seseorang yang kasar atau bodoh?
  • Memberi nasihat secara peribadi. Antara asas-asas seni memberi nasihat adalah bukannya untuk memalukan orang berkenaan secara umum mengenai kesalahan yang ia telah lakukan. Ini akan menyakitikan perasaannya dan juga boleh menegur ANDA kembali di khalayak ramai, dan adalah ANDA yang akan menerima padah berikutan tindakan anda tadi:D Sebaliknya, nasihatkan secara peribadi kepada seseorang itu, dan ini akan membuatkan ia mendengar nasihat anda. Rasulullah (SAW) menguasai seni memberi nasihat; apabila dia tahu bahawa salah seorang daripada rakan-rakannya melakukan sesuatu yang silap, dia tidak bercakap dengannya secara langsung, sebaliknya, beliau bercakap mengenai topik ini secara umum dengan mengatakan sesuatu seperti “sesetengah orang melakukan beberapa kesilapan, atau ramai orang tidak tahu bahawa ini atau itu adalah salah.”

Kesimpulannya, memberi nasihat adalah seperti memberi hadiah. Sekiranya anda berkelakuan baik, belas kasihan, pintar, dan sentiasa senyum, hasilnya usaha yang anda lakukan akan kembali kepada anda

You can also read this article in English Here


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

About the author



View the Original article

Hak Tetangga dalam Islam

on Wednesday, July 18, 2012

Tidak diragukan lagi, Islam adalah salah satu berkat yang telah Allah berikan pada umatNya. Islam adalah agama perdamaian, jadi Islam memastikan pengikutnya memiliki kehidupan yang damai dan aman. Selain itu, Islam mengajarkan pengikutnya untuk tidak membahayakan orang lain. Lebih khusus pada tetangga, Islam telah memperingatkan secara tegas pada umatnya untuk baik dan rukun dengan tetangga mereka. Ini tentu memberi kesan bahwa di satu sisi Islam memberi perlindungan pada hak-hak pengikutnya, dan di sisi lain juga membebankan tanggung jawab atas hak orang lain.

Secara terus-menerus seseorang  berinteraksi dengan tetangga sebagaimana dilakukan dengan kedua orang tua, anak-anak atau orang lain yang ada di rumah. Oleh karena itu, perlu baginya memiliki hubungan yang baik dengan tetangganya. Setiap orang ingin memiliki hidup yang damai dan nyaman. Hal ini hanya bisa didapat jika dia menjaga hubungan yang baik dengan tetangganya. Islam, sebagai agama bagi seluruh alam, memahami dengan sangat baik sifat alamiah manusia ini. Karena itu, Islam membimbing pengikutnya untuk memiliki hidup yang bahagia dan damai.

Namun demikian, selain melindungi hak-hak tetangga juga membebankan tanggung jawab tertentu pada pengikutnya. Sehingga tidak hanya pengikutnya yang bisa hidup tanpa bahaya dan masalah, tapi tetangga mereka juga dapat hidup bebas dari masalah. Tetangga telah diberi perhatian yang besar oleh Islam. Berdasar suatu hadits, menjadi tetangga yang baik adalah sebagian dari iman. Demikian juga dalam kesempatan lain, Nabi Muhammad Saw. mengatakan bahwa seseorang tidak dikatakan beriman jika dia mengantuk setelah makan kenyang sementara tetangganya masih kelaparan. Dari sini dapat disimpulkan betapa pentingnya posisi tetangga dalam Islam.

Tujuan utama setiap muslim adalah masuk surga setelah meninggalkan dunia ini. Dia terus menyembah Allah Ta’ala dan mencoba membuat Allah senang sehingga dia dapat masuk surga sebagai imbalan atas perbuatan baiknya. Tapi Islam telah memperingatkan umatnya bahwa mereka tidak akan mendapat pahala jika mereka tidak bersikap baik dan simpatik terhadap tetangga mereka. Sebagaimana Nabi Muhammad Saw. pernah bersabda bahwa seseorang tidak akan masuk surga jika tetangganya tidak aman dari perbuatan buruknya. Hadits ini secara jelas menunjukkan hak-hak tetangga dalam Islam. Islam tidak mengijinkan pengikutnya untuk berbuat tidak baik atau menjadi pembuat masalah bagi tetangga mereka.

Suatu kali Nabi Muhammad Saw mengatakan Malaikat Jibril menyampaikan perintah Allah yang aku khawatirkan bahwa mereka (tetangga) akan mendapat bagian dari warisan. Ini tersirat dari ucapan Nabi saat beliau memikirkan tentang pentingnya pemberian kepada tetangga sebagaimana perintah Allah, tetangga juga bisa menjadi ahli waris. Dengan demikian, Islam sangat menekankan pentingnya hak-hak tetangga. Islam secara tegas memerintahkan umatnya untuk sopan dan baik pada tetangga mereka agar juga sukses di mata Allah.

You can also check this article in English Here

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

View the Original article

Persatuan dalam Perbedaan Islam

on Thursday, June 28, 2012

“Kehancuran Islam bukan disebabkan ulah orang-orang di luar Islam, melainkan karena kesalahan orang Islam sendiri” –KH. Mustofa Bisri—

Seringkali ketika menonton berita di televisi maupun internet, saya menyaksikan bermacam kekerasan yang dilakukan oleh kaum Muslim, baik kepada kelompok non Muslim, maupun –yang lebih ironis— dilakukan pada sesama Muslim yang dianggap berbeda dalam pemahaman tentang ajaran agama. Padahal, jika mau jujur dalam berpikir, sesungguhnya prinsip “perbedaan” dalam memahami agama ini sudah sejak lama diingatkan oleh Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa Sallam dalam sebuah hadits yang menyebutkan bahwa pada suatu masa, umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, di mana hanya satu golongan yang akan dimasukkan ke dalam surga Allah. Golongan yang akan masuk ke dalam surga ini, adalah golongan yang secara benar mengikuti sunnah rasul dalam segala sendi kehidupannya.

Dari hadits yang sudah dijelaskan sebelumnya, kita mendapat pelajaran bahwa perbedaan yang ada sekarang ini merupakan sunnah Allah yang memang sudah seharusnya terjadi. Siapa pula yang bisa menentang kehendak-Nya? Sementara dalam al-Quran Allah juga menyebutkan bahwa perbedaan antar ummat ini merupakan bagian dari irodah, bagian dari keinginan Tuhan atas makhluk ciptaan-Nya.

Dalam kesempatan lain, Nabi Muhammad menyebutkan bahwa dalam perbedaan terdapat kasih sayang Tuhan terhadap makhluk-Nya. Kasih sayang ini, antara lain terbentuk dalam kesempatan untuk memahami satu sama lain tanpa menuntut kesamaan pendapat dan pemahaman tentang Islam, antara satu golongan dengan yang lain. Inilah yang kemudian disebut di seluruh dunia sebagai prinsip “kebebasan berpikir dan berpendapat” yang menjadi bagian mutlak dalam asas-asas mengenai hak asasi manusia.

Sementara dalam hadits tentang posisi Muslim dengan Muslim lain, Nabi Muhammad menyebut bahwa antara satu Muslim dengan Muslim yang lain adalah seumpama satu tubuh, yang meski tak serupa tapi padu dalam fungsi, yang bila sebagian sakit, maka turut merasa sakitlah seluruh tubuh. Artinya, sebagai sesama muslim –tanpa memandang dari sekte apa pun, dengan perbedaan apa pun— seharusnya kita tidak saling memusuhi, tapi sebaliknya. Saling menjaga satu sama lain, dari berbagai gangguan yang berasal dari luar. Jika dari gangguan luar saja kita harus menolak dan jika perlu melawan, mana boleh kita menghancurkan tubuh kita dari dalam?.

Berada dalam perbedaan, bukan berarti kita juga harus berada dalam permusuhan antar golongan, antar paham dan sekte yang ada dalam Islam, di mana kita sebenarnya berada dalam ‘rumah’ yang sama. Ibarat keluarga, kita adalah anak-anak dari orang tua yang sama. Lalu, kenapa kita harus bertengkar? Kenapa sesama Muslim harus saling menghujat? Sementara kita tahu, bahwa ‘peperangan’ antar kita lah yang menjadi harapan dari mereka yang ingin menghancurkan Islam.

Maka, yang  seharusnya kita lakukan sebagai Muslim adalah menguatkan rasa persatuan dan persaudaraan antar sesama Muslim di seluruh dunia, tanpa memandang perbedaan pemahaman agama yang ada, tapi lebih menguatkan pemahaman dan kesadaran atas kesamaan Tauhid, keimanan pada Allah sebagai Tuhan, dan Muhammad sebagai Nabi utusan dengan ajaran yang mendamaikan bagi seluruh alam, rahmatan lil ‘alamin. Berakhir sudah masa-masa dakwah yang mengajak umat Muslim untuk berperang secara fisik, berperang dengan kekerasan otot. Zaman sudah berubah, saatnya kita sebagai Muslim merapatkan barisan dalam damai. Mewujudkan dunia yang kita impikan bersama sebagai manusia yang beradab. Tak perlu terulang lagi kasus-kasus terorisme yang selama ini diidentikkan dengan Islam, tak perlu ada lagi penindasan kaum Muslim oleh non-Muslim. Dan, tak perlu lagi, televisi dan media massa kita dihiasi oleh kekerasan, apa pun alasannya. Dalam damailah kemajuan yang sejati.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

View the Original article