Showing posts with label masjid. Show all posts
Showing posts with label masjid. Show all posts

Monthly Tarbiyat Program To Be Held At Gyotoku Masjid, Chiba

on Sunday, March 24, 2013

hira-masjidKeeping in view the long tradition of helping its members become better Muslims and better human beings,  Islamic Circle of Japan at Hira Masjid, Chiba is going to hold an overnight Tarbiyat program starting from December 22, Saturday evening which will last till  the Magrib prayer on December 23,  Sunday.  Various educational programs and other social activities will be held on the occasion.

The organizers of the monthly Tarbiyat (Spiritual education ) program have urged all the Japanese speaking Muslims to attend the event。 Further details of the progrtam can be viewed on the ICOJ website.



View the Original article

Islam Di Belanda #3: Masjid Komunitas Maroko

on Tuesday, January 1, 2013

Seperti halnya masjid komunitas Turki, masjid komunitas Maroko pun sebenarnya memiliki nama resmi, tapi warga Indonesia lebih cenderung menyebut dengan sebutan masjid komunitas Maroko atau masjid Selwerd. Selwerd di sini menunjuk pada nama tempat (daerah) masjid tersebut berada.

Dalam hal komposisi jamaah, masjid ini cenderung lebih plural daripada masjid Turki karena jamaahnya berasal dari berbagai belahan dunia. Banyak jamaah yang berdatangan ke sini karena rata-rata jamaah di sini bisa berbahasa Arab dan Belanda, sehingga bisa lebih akrab dan membaur satu sama lain. Meski cenderung lebih plural, tapi tetap saja ada jamaah mayoritas, dan jamaah dari Timur Tengah lah yang menjadi mayoritas di sini.

Jumlah jamaah dari Timur Tengah memang sangat banyak. Mereka umumnya adalah para imigran yang hidupnya ditanggung pemerintah Belanda. Hal ini sempat dipermasalahkan oleh Geert Wilders, salah satu politisi Belanda yang anti Islam. Dia menganggap bahwa penanggungan biaya hidup imigran oleh pemerintah itu membebani negara, apalagi saat ini Eropa sedang dilanda krisis ekonomi. Oleh karena itu, dia menyaranakan agar para imigran dipulangkan saja ke negara asalnya. Akan tetapi, sampai saat ini nyatanya hal itu hanya menjadi kicauan seorang Wilders saja.

Kembali ke topik utama, jika dilihat dari luar, bangunan masjid ini tampak tidak terlalu besar. Bentuknya pun agak aneh karena lebih menyerupai rumah daripada tempat ibadah. Akan tetapi, daya tampung masjid ini tidak kalah dengan masjid komunitas Turki. Masjid ini juga terdiri dari beberapa ruangan. Di lantai satu terdapat toko, kantor, toilet, tempat wudhu, ruang bersama, dan ruang utama untuk sholat, sedangkan lantai dua biasanya digunakan untuk jamaah perempuan.

Berbeda dengan masjid Turki yang hanya buka pada waktu-waktu tertentu saja, masjid Maroko selalu buka setiap hari, dari pagi sampai malam, termasuk tokonya. Jadi, jamaah bisa lebih leluasa keluar masuk masjid dan belanja makanan halal di tokonya. Jamaah pun tidak diharuskan memakai kaos kaki untuk masuk ke ruangan utamanya. Dan satu hal yang tidak kalah pentingnya, tempat wudhu di masjid ini memakai keran biasa, sama seperti tempat wudhu masjid-masjid di Indonesia.

Masjid ini biasanya ramai pada hari Jumat dan hari Ahad. Pada hari Jumat, jamaah ramai berdatangan untuk melaksanakan sholat Jumat. Khutbah Jumat di sini selalu disampaikan dalam bahasa Arab. Terkadang khotib juga menjelaskan intisari khotbah dengan bahasa Inggris setelah selesai sholat. Imam masjid di sini memang fasih berbahasa Inggris. Akan tetapi, khotbah tidak disampaikan dalam bahasa Inggris karena jamaah lebih banyak yang fasih berbahasa Arab daripada bahasa Inggris.

Satu hal yang menarik di masjid ini adalah, setelah sholat Jumat seringkali ada muallaf yang berikrar syahadat. Ikrar-ikrar itu selalu mengundang rasa haru di dada para jamaah, sehingga tidak jarang jamaah yang menitikkan air mata setelah prosesi syahadat. Hal ini setidaknya bisa menjadi indikator bagaimana Islam mulai tumbuh di Eropa.

Konsekuensi positif dari semakin bertambahnya jamaah adalah daya tampung masjid yang semakin kurang. Oleh karena itu, takmir masjid berencana untuk segera merenovasi masjid agar bisa menampung jamaah lebih banyak. Masjid ini juga diproyeksikan menjadi Islamic Center di Groningen.

Pada hari Ahad, jamaah ramai berdatangan untuk belajar. Masjid ini memang menyediakan kelas untuk belajar Al-Qur’an dan bahasa Arab, tetapi mereka yang belajar umumnya adalah anak-anak kecil usia SD-SMP. Bahasa pengantarnya adalah bahasa Belanda.



View the
Original article

Islam Di Belanda #2: Masjid Komunitas Turki

on Friday, December 28, 2012

Dalam artikel sebelumnya diceritakan bahwa di Belanda, khususnya kota Groningen terdapat dua masjid, yaitu masjid komunitas Turki dan masjid komunitas Maroko. Pada artikel ini, akan diceritakan tentang masjid komunitas Turki dan pada artikel selanjutnya akan diceritakan juga mengenai masjid komunitas Maroko.

Masjid komunitas Turki sebenarnya memiliki nama resmi, yaitu “Eyup Sultan Camii: Turkse Islamitische Culturele Vereniging”, yang mana tertulis di pintu gerbang masjid tersebut. Nama Eyup Sultan Camii merujuk pada masjid terindah dan termegah yang ada di Turki. Orang Indonesia biasa menyebut masjid ini dengan sebutan masjid komunitas Turki karena jamaah di sana didominasi oleh warga Turki.

Bangunan masjid ini dulunya adalah gereja, tapi karena gereja ini kekurangan jamaah, maka bangunan ini pun disewakan pemerintah kota kepada warga Turki. Di Groningen  sendiri (dan Belanda pada umumnya) terdapat banyak sekali gereja yang kekurangan jamaah. Kondisi ini mirip dengan Indonesia yang memiliki banyak masjid, tapi sepi peminat (baca: jamaah). Kita berharap semoga tidak ada satupun rumah Allah di Indonesia yang gulung tikar dan disewakan menjadi gereja.

Bangunan masjid ini terdiri dari dua lantai. Lantai satu yang disewa oleh warga Turki digunakan untuk tempat ibadah, sedangkan lantai dua (disewa pihak lain) digunakan untuk tempat bermain futsal. Maka jangan heran jika sedang sholat, anda akan mendengar suara hentakan kaki yang cukup keras di atas kepala anda. Masjid ini terdiri dari beberapa ruangan, yaitu toko, tempat wudhu, toilet, ruang menonton tv, ruang kantor, ruang rapat (pertemuan) sekaligus ruang olahraga, dan ruang utama untuk sholat.

Toko di masjid ini tidak buka setiap hari, hanya hari tertentu saja ketika jamaah sedang banyak berdatangan, misalnya hari Jumat. Toko ini menjual berbagai macam makanan, buah-buahan, dan sayuran yang semuanya halal. Penjual di toko ini adalah orang Turki. Dia hanya berbahasa Turki dan Belanda. Jika anda tidak bisa keduanya, maka anda bisa menggunakan bahasa isyarat.

Tempat wudhu di masjid Turki sangat kecil, hanya berkapasitas tiga orang. Uniknya, tempat wudhu di sini berbentuk wastafel yang tingginya sudah disesuaikan. Di depan wastafel disediakan kursi untuk duduk. Jadi, jamaah berwudhu dalam posisi duduk. Di sini juga disediakan tisu untuk mengelap kaki agar tidak basah ketika memasuki ruang sholat.

Ruang menonton tv biasa digunakan jamaah untuk kumpul-kumpul setelah atau sebelum sholat. Masjid Turki ini hanya buka pada waktu-waktu sholat, biasanya setengah jam sesudah dan sebelum waktu sholat. Di luar waktu itu, masjid akan dikunci dari luar. Maka dari itu, jamaah tidak bisa berkumpul lama-lama di ruangan ini, kecuali pada hari Jum’at. Pada hari ini, masjid dibuka hampir seharian sehingga jamaah bisa bersilaturahim lebih lama. Setiap selesai sholat Jum’at, biasanya takmir atau DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) menyediakan makanan ringan dan buah-buahan gratis yang bisa disantap bersama-sama. Selain itu, satu hal lain yang menarik pada hari Jum’at di masjid ini adalah khutbah Jum’atnya yang menggunakan bahasa Turki. Sekali lagi, karena jamaah di masjid ini didominasi oleh warga Turki dan masjidnya pun sebenarnya adalah “milik” mereka, maka khutbahnya pun menggunakan bahasa mereka. Kadang hal ini bisa disalahgunakan menjadi argumen kuat bagi para jamaah non Turki yang suka tertidur ketika khotib naik mimbar.

Ruang selanjutnya yang ada di dalam masjid ini adalah ruang kantor. Ruang ini sebenarnya jarang digunakan karena masjid pun jarang dibuka, meskipun tetap ada kegiatan operasional yang dilakukan. Sedangkan ruang pertemuan biasanya digunakan untuk acara-acara khusus (biasanya dipakai untuk pertemuan orang-orang Turki). Di ruangan ini juga ada beberapa alat olahraga, seperti meja billiard, meja ping-pong, dan permainan sepak bola mini yang dimainkan dengan tangan.

Terakhir, ruang utama masjid. Ruang ini berkapasitas cukup besar, yaitu sekitar 200 orang. Di bagian belakang ada ruangan lagi untuk jamaah perempuan. Ruang utama ini beralaskan karpet merah yang sangat tebal. Typically Turkish (sangat Turki sekali). Ruangan ini sangat bersih dan nyaman. Jamaah yang mau masuk ke ruangan utama diharuskan memakai kaos kaki. Peraturan ini secara jelas dituliskan di pintu masuk ruang utama. Bagi jamaah yang berani melanggar akan ditegur oleh takmir baik dalam bahasa Turki atau pun Belanda.

Di dalam ruangan utama ada ruangan kecil yang digunakan oleh imam untuk mengganti pakaian. Imam di masjid ini memiliki seragam khusus untuk memimpin sholat berjamaah. Seragam yang digunakan bentuknya seperti jubah sultan dalam film-film. Ditambah dengan penutup kepala yang khas, penampilan imam tak ubahnya penampilan seorang sultan. Performa Turki memang terlihat sedikit berbeda daripada umat Islam lainnya. Mereka terlihat lebih mewah. Performa seperti itu bisa jadi merupakan sisa-sisa peninggalan kejayaan kesultanan yang telah runtuh.

About the author

Sulung dari tiga bersaudara. Sedang belajar Psikologi. Hobinya belajar dan main sama anak-anak.



View the Original article

Masjid Assyafaah, Bergaya Kontemporer dan Tetap Islami

on Monday, September 17, 2012

Masjid Assyafaah

Bagi sebagian besar orang, pertama kali mengunjungi Masjid Assyafaah ini mungkin akan sedikit heran dengan bentuk dan gaya arsitekturnya. “Tidak terlihat seperti masjid”. Memang benar, gaya arsitektur kontemporer yang terlihat sangat modern pada masjid ini memang membuatnya tidak terlihat seperti masjid pada umumnya, baik masjid-masjid di kawasan Asia Tenggara sendiri maupun masjid-masjid kebanyakan di seluruh dunia. Lagi-lagi, seperti yang banyak diangap oleh orang awam, masjid identik dengan kubah dan bentuk-bentuk yang sangat ke-Timur Tengah-an.

Desain Masjid Assyafaah ini mencoba menyatu dengan lingkungannya di Sembawang Estate, bagian utara Singapura. Dengan keadaan masyarakat yang multi etnis, maka desain pun mencoba berharmonisasi dengan keberagaman tersebut. Sengaja tidak menghadirkan arsitektur Melayu maupun Timur Tengah, tetapi justru gaya kontemporer yang modern. Pilihan ini diharapkan akan selaras dengan lingkungan sekitar yang kebanyakan merupakan bangunan modern bertingkat-tingkat seperti apartmen, sehingga masjid ini tidak menjadi sesuatu yang kontras dan aneh di tengah-tengah kawasan tersebut.

Sebagai bangunan yang mencoba kontekstual dengan lingkungan, budaya, dan zaman, elemen-elemen modern seperti material fabrikasi sangat menonjol pada Masjid Assyafaah ini. Dominasi material beton pada struktur utama dikombinasikan dengan penggunaan alumunium dan baja pada detail-detail arsitektur, serta penggunaan kaca menjadi daya tarik tersendiri bagi masjid ini. Pola-pola Arabesque pun muncul dengan “cara” baru pada bangunan. Pola-pola ini muncul dengan pengulangan bentuk geometris dengan material alumunium, baik pada kulit bangunan maupun detail interior. Penggunaan kaca juga banyak digunakan untuk memasukkan sinar matahari sebagai pencahayaan alami, terutama pada tangga. Panas yang diakibatkan oleh penggunaan kaca ini disiasati dengan sistem louvre/ krepyak pada jendela-jendela kaca sehingga sirkulasi udara dapat terjadi dengan baik. Minaret masjid pun tampil modern dengan penggunaan lempeng baja rusted yang disusun sedemikian rupa, disimbolkan sebagai bentuk huruf “alif”.

Masjid Assyafaah ini terdiri dari 4 lantai dan 1 basement. Fungsi yang diwadahi dalam bangunan ini tidak hanya untuk tempat ibadah, tetapi juga dilengkapi perpustakaan, kursus keagamaan, dan taman pendidikan islam untuk anak-anak. Penataan fungsi-fungsi pun ditata secara vertical. Lantai keempat dan ketiga lebih difungsikan untuk keperluan pendidikan. Sedangkan lantai pertama dan kedua merupakan tempat ibadah dengan ruangan didesain terbuka, sehinga penghawaan alami pun menjadi optimal. Bahkan untuk basement pun diusahakan 25% menggunakan penghawaan alami. Hal ini menghasilkan penghematan energy yang sangat berpengaruh dalam jangka panjang. Hal yang menarik di lantai pertama adalah struktur lengkung yang berperan sebagai kolom sekaligus balok penyangga. Hal ini sangat kontras dengan bentuk-bentuk pada Masjid Assyafaah ini yang dominan garis-garis vertical maupun horizontal. kehadiran bentuk lengkung ini juga sebagai pengarah ke mihrab. Dinding mihrab didesain menerus dari lantai empat, dengan cahaya memancar dari skylight memberikan kesan agung sebagai sebuah bangunan ibadah. Kesan agung yang sederhana ini berhasil menjadi point of interest pada ruangan utama tersebut.

Karena sebenarnya Islam tidak pernah menunjuk pada sebuah kebudayaan tertentu, maka arsitektur bangunan Islam pun tidak pernah menunjuk pada suatu langgam arsitektur tertentu. Nilai-nilai islam yang bersifat universal pastinya dapat diaplikasikan pada semua budaya, wilayah, dan zaman, asalkan sesuai dengan syariat Islam. Hal inilah yang coba diangkat oleh Forum Architect, designer Masjid Assyafaah. Menghadirkan arsitektur yang sesuai dengan zaman dan budaya dimana bangunan tersebut didirikan. Seperti pernyataan sang arsitek, “ Wajah modern dari masjid ini memberikan kesan bahwa Muslim itu ‘jauh dari terorisme’ karena modernitas berlawanan dengan fundamentalis Muslim.”


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

About the author



View the Original article

Al Masjid AL Nabawi;The Most Prestigious and Famous Islamic Building in Medina

on Friday, September 14, 2012

Al Masjid AL Nabawi;The Most Prestigious and Famous Islamic Building in Medina

Al Masjid AL Nabawi is a place that can say to be buried Rasululah including the famous Islamic building with modern Islamic architecture

In Islam, the mosque became a place of worship and obeisance to God. The mosque is the Islamic building, which is sacred to all Muslims to be able to relate directly to God. Many Islamic religious activities can do in a mosque such, to follow, religious lectures, consultation with religious leaders, and many others that can foster the faith of a Muslim. The mosque, as Islamic building many spread across the world and has unique and distinctive story that is worth exploring.

The basic of mosque architecture, as a place worship usually based on harmony with the environment, with the expectation that all Muslims aware that the teachings and principles of Islam is the relationship in harmony with nature. The function of the mosque, in fact, not only Muslim place of worship but also widely used for various activities such as Islam, Islamic religious education space, and other political forums.

In the history of Islam said that Medina is a city of the Prophet Mohammed migrated from Mecca, and then founded the mosque as a Muslim place of worship, which was originally the location of the palm fruit drying and until recently called the Prophet’s Mosque, which includes one of the famous Islamic building. Nabawi mosque can accommodate as many 500.00 pilgrims who want to pray.

Nabawi Mosque is one of famous Islamic building rich in historic sites, which believed to be buried where Rasululah and the presence of several small mosques around the mosque. Different from other mosques, Masjib Nabawi, which is a famous Islamic building, have its own procedures for such things as Muslims, should not Tawaf around Rasululah graves, stand looking towards the walls of the tomb with the hope that all worldly thoughts and desires can put in that place, and others.

This famous Islamic building is a masterpiece of modern Islamic architecture, calligraphy, building a magnificent pole structure and a gilded chandelier. The beauty of the Nabawi mosque cannot separate from the role of Muslim leaders who continue to make renovations and expansion to the original building of the mosque.

In Islam, all Muslims required to pray five times a day and understand the Qur’an to nurture the faith and get closer to God spiritually. Even if, a Muslim to pray in the mosque which includes famous Islamic building, but when it does not perform and only a symbol of ever setting foot in one of the famous Islamic building and will have no mercy from God.

For that, let people get away Muslim characteristics disliked God and can live well in the eyes of God. Always do right and to respect everyone regardless of ethnic, religion and race. Famous Islamic building scattered in various countries around the world whether Muslim or non-Muslim countrie, should be a reflection that the spread of Islam continues to grow and be able to make the Muslim community as a true Muslim.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

About the author



View the Original article

Masjid Al Irsyad, Mengubah Stereotype Bangunan Masjid

on Thursday, August 30, 2012

Eksterior Masjid Al Irsyad

Mungkin saat mendengar kata masjid, yang ada diimajinasi kita adalah kubah atau paling tidak atap limasan yang runcing menjulang khas masjid-masjid di Jawa, tapi ternyata tidak selamanya seperti itu. Siapa bilang masjid harus punya kubah? Tidak seperti yang dianggap kebanyakan orang,  kubah  sebenarnya bukan ciri khas arsitektur masjid ataupun bangunan dengan arsitektur Islami lain, kubah itu milik arsitektur Timur Tengah.  Asitektur yang Islami tidak mengacu pada bentuk-bentuk yang lazim digunakan, tapi lebih kepada esensinya, konsep dari bangunan itu sendiri.

Masjid Al Irsyad membuktikan hal ini dengan desainnya yang “tidak biasa”. Masjid yang berlokasi di di Kota Baru Parahyangan, Kec. Padalarang, Kab. Bandung Barat (KBB), ini sangat berbeda dari masjid-masjid kebanyakan. Ketiadaan kubah disini memang disengaja karena kubah sendiri tidak kontekstual baik secara identitas keagamaan maupun dengan wilayah masjid ini berada. Sebagai gantinya justru muncul bentuk bangunan kotak sederhana dengan warna abu-abu. Kesan dari masjid ini pun lebih modern dan sederhana.

Bentuk kotak pada Masjid Al Irsyad ini terinspirasi dari bentuk Ka’bah, begitu juga dengan lansekapnya yang melingkar-lingkar mengelilingi masjid terinspirasi dari konsep towaf. Selain bermakna filosofis, bentuk kotak ini juga secara fungsional lebih efisien untuk mengakomodasi kegiatan sholat berjamaah yang mana dilakukan dengan berbaris-baris menghadap Kiblat. Kolom struktural pun disusun sedemikian rupa sehingga tidak terlihat dari fasad bangunan. Inilah yang kemudian memungkinkan permainan pada seluruh dinding fasad, yaitu susunan bata berlubang yang membentuk kaligrafi tiga dimensi raksasa bertuliskan dua kalimat syahadat. Lubang-lubang pada dinding ini sekaligus berfungsi sebagai ventilasi udara dan pencahayaan alami. Minaret sebagai elemen penting pada masjid, disini berbentuk kotak menjulang senada dengan bangunan masjid utama. Seperti minaret pada umumnya, fungsi utama sebagai tempat adzan, dan juga sebagai penanda akan keberadaan masjid tersebut.

Fasad Masjid Al Irsyad

Masuk ke dalam interior masjid, keunikan lainnya terletak pada mihrabnya. Pada Masjid Al Irsyad ini, mihrab justru dibiarkan terbuka, tidak seperti pada masjid pada umumnya yang tertutup. Unsur keterbukaan membuat suasana lebih menyatu dengan alam dengan pemandangan pegunungan hijau yang terlihat jelas. Selain itu,unsur air juga dihadirkan ke dalam ruangan, di sini mimbar khatib terlihat seakan-akan terletak di atas kolam jernih. Tepat di atas kolam air berdiri bola besar yang bertuliskan kaligrafi Allah SWT. Unsur air di sini juga membantu menurunkan suhu udara pada musim panas.

Interior Masjid Al Irsyad

Interior Masjid Al Irsyad

Masjid yang selesai dibangun pada tahun 2010 ini telah menyita perhatian dunia arsitektur internasional. Masjid Al Irsyad masuk dalam 5 besar “Building of The Year 2010″ dalam katagori religious architecture. National Frame Building Association memilih Masjid Al Irsyad sebagai satu-satunya tempat ibadah dari Asia yang masuk dalam nominasi. Selain itu, masjid ini juga merupakan satu-satunya tempat ibadah yang masuk di luar gereja. Kosep yang diusung oleh tim arsitek Urbane, dengan prinsipal arsiteknya Ridwan Kamil, menjadi alasan mengapa masjid Al Irsyad mampu masuk nominasi dan menyisihkan ratusan tempat ibadah lainnya dari seluruh dunia. Masjid Al-Irsyad terpilih melalui polling di internet di situs ArchDaily.com untuk kategori rumah ibadah. ArchDaily.com merupakan situs arsitektur yang paling banyak dikunjungi di dunia.

Penggunaan konsep Ka’bah yang menghasilkan bentuk kotak ini memang jauh lebih sederhana jika dibandingkan dengan masjid-masjid lain kebanyakan, yang biasanya penuh dengan ornamen dan warna-warna mencolok. Tetapi arsitektur Islami itu tidak terbatas pada wujud fisik saja. Kesederhanaan di sini justru sesuai dengan ajaran Islam itu sendiri. Kesederhanaan mampu memberikan makna yang jauh lebih dalam. Less is more.

Link ke ArchDaily.com


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

About the author



View the Original article

Masjid Kampus UGM

on Thursday, August 9, 2012

Masjid Kampus UGM, Yogyakarta, Indonesia

Masjid Kampus UGM literally means Campus Mosque of UGM (University of Gadjah Mada), Yogyakarta, Indonesia. This picture is the first floor interior, a semi-open space for multifunctional purpose. This mosque is one of the landmarks in the campus area, as well as in the region. The Islamic architecture style is pretty much adapted to Javanese architecture, as Yogyakarta is the central of Javanese culture.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

About the author



View the Original article

IKEA-sponsored masjid causes outrage among Islamophobes

on Sunday, June 17, 2012

The Islamophobic blogosphere continues to set new standards in craziness. This poses some problems for those of us dedicated to combating it. The traditional reference to Melanie Phillips as "Mad Mel" now seems outdated since, compared with Pamela Geller, Phillips appears almost balanced and rational. And Geller, in turn, is outbid in the competition for sheer lunacy by Bonni Benstock-Intall of Bare Naked Islam. As quick scroll through her blog will confirm, "Bonkers Bonni" doesn't even begin to cover it.

A couple of weeks back the Maniac Muslim website posted a spoof article titled "IKEA Sponsors Masjid". Anyone with half a brain could spot that it was satirical. But that obviously excludes Bonni Benstock-Intall. In a post at The American Muslim ("The Maniac Muslim, Masjid IKEA, and Bare Naked Islamophobia") Sheila Musaji draws our attention to a truly demented post at Bare Naked Islam in which Benstock-Intall swallowed whole the story about the IKEA-sponsored masjid. ("Well, IKEA IS Swedish and we know how happy the Swedes are about the dramatic spike in rapes of Swedish women by Muslim men.")

"At this point", Shelia Musaji wrote yesterday, "her article has 33 comments from her devoted readers – all of them fitting this profile – I'll never shop at IKEA again, Florida Family Association should set up a boycott, corporations like this are 'betraying' America and are 'vile freedom-HATERS who are joining other corporations to DESTROY our freedom and human rights'."

Benstock-Intall did subsequently add a warning to her readers that "as I have not been able to verify this story, it may be a satire" (well, duh, yes – just possibly) followed by an announcement that comments were closed. The entire post has now been deleted. However, it can still be found over at a site rejoicing in the name of the Infidel News Network and screenshots of the original post at Bare Naked Islam, along with the comments it provoked, can be viewed here.

As Sheila Musaji points out, it is revealing that "even something as ludicrous as this stirs up the Islamophobic base to a hysterical pitch". These people really have taken leave of their senses.



View the Original article