Showing posts with label Barat. Show all posts
Showing posts with label Barat. Show all posts

Perempuan Dalam Perspektif Islam #2: Kedudukan Perempuan di Barat

on Thursday, January 3, 2013

Islam, sejak awal kemunculannya di abad ke-7 Masehi, sebenarnya telah menjawab berbagai permasalahan di tiap aspek kehidupan, termasuk permasalahan yang diangkat oleh kaum feminis, yaitu kesetaraan gender. Akan tetapi, karena tidak semua orang tahu dan mau tahu dengan ajaran Islam, maka semua solusi yang Islam tawarkan menjadi sia-sia.

Jika dipahami dari latar belakang sejarahnya, menggeloranya gerakan feminisme, khususnya di Barat, sebenarnya terjadi akibat penistaan yang menimpa perempuan. Penistaan itu dilakukan sejak masa jahiliyah, jauh sebelum kedatangan Islam sampai dengan masa revolusi industri. Pada masa itu, kaum perempuan pada berbagai peradaban di dunia tidak lebih dianggap sebagai komoditas, alat pemuas nafsu yang diperjualbelikan sebagaimana hewan ternak (Patel, 2005).

Bahkan, Aristoteles yang merupakan filsuf besar Yunani pun pernah mengatakan “… dengan demikian kita dapat menyimpulkan bahwa menurut hukum alam, harus ada unsur yang secara alamiah memerintah dan harus ada unsur yang secara alamiah diperintah … Kekuasaan orang-orang yang bebas terhadap para budak adalah salah satu bentuk hukum alam; demikian pula kekuasaan kaum lelaki atas kaum perempuan … Para budak sama sekali tidak mampu memberikan pertimbangan, sedangkan kaum perempuan memang mampu, tetapi dalam bentuk yang tidak pasti” (Patel, 2005).

Orang-orang Yunani memposisikan kaum perempuan pada kasta ketiga (kasta yang paling bawah) dari masyarakat (Patel, 2005). Hal itu dikarenakan adanya keyakinan bahwa sesungguhnya wanita adalah penyebab penderitaan dan musibah bagi seseorang (Al-Istambuli, 2006).

Apabila seorang perempuan melahirkan anak yang cacat, biasanya ia akan dihukum mati.  Orang-orang Yunani juga umumnya menganggap bahwa kaum perempuan adalah makhluk yang tidak berarti, yang tidak akan dikasihi oleh para dewa (Patel, 2005).

Berbeda lagi pandangan dari kaum Yahudi. Kaum Yahudi ortodoks yang mempelajari ajaran klasik Yahudi akan mendapati bahwa ada di antara ajaran dan aturan Yahudi yang dinilai menindas kaum perempuan. Talmud, sebuah kitab yang berisi aturan-aturan dalam kehidupan pribadi dan peribadatan menyatakan “Mustahil ada sebuah dunia yang tanpa ada keberadaan kaum lelaki dan perempuan. Namun demikian, berbahagialah orang-orang yang mempunyai anak laki-laki, dan celakalah orang-orang yang mempunyai anak perempuan” (Patel, 2005).

Bangsa Prancis yang kita kenal sebagai bangsa yang modern dan berpendidikan pun pernah mengeluarkan resolusi (tahun 586 M) yang isinya mencoba untuk menunjukkan “kemurahan” dan “keberadabannya”. Resolusi yang dikeluarkan setelah melalui pertimbangan dan perdebatan yang panjang itu menyatakan bahwa “perempuan dapat diklasifikasikan sebagai manusia, namun demikian ia diciptakan semata-mata untuk melayani kaum laki-laki” (Patel, 2005).

Bangsa Inggris pun ternyata tidak jauh berbeda dengan bangsa Prancis. Hukum Inggris menetapkan bahwa dalam ikatan perkawinan, seorang perempuan akan kehilangan hak-hak yang dia miliki saat ia masih belum terikat pernikahan. Seluruh harta kekayaannya berpindah kepada suaminya, sehingga diri dan hartanya berada dalam kekuasaan penuh suaminya. Seorang suami bahkan tidak perlu bertanggung jawab kepada istrinya. Sang istri tidak dapat mengeluarkan harta miliknya, atau membuat perjanjian bisnis atas nama dirinya, dan juga tidak dapat menuntut maupun dituntut. Secara praktis, pernikahan sama artinya dengan saat kematian hak-hak sipil seorang perempuan (Patel, 2005).

Penomorduaan derajat perempuan terus terjadi hingga masa revolusi industri. Pada masa itu, derajat kaum perempuan juga sangat rendah karena mereka dianggap sebagai pihak yang tidak memberikan sumbangsih terhadap negara sebab mereka tidak bekerja. Sebaliknya, kedudukan pihak laki-laki sangat tinggi karena mereka bekerja, yang dengan pekerjaannya itu negara mereka menjadi maju.

Dari uraian di atas, kita dapat mengetahui bagaimana kedudukan perempuan yang sangat rendah dan lemah di mata bangsa Barat. Jika mayoritas bangsa di Barat memerlakukan perempuan seperti itu, maka wajar kiranya jika di kemudian hari mereka berontak dan menuntut persamaan hak, seperti yang terjadi pada kasus gerakan feminisme ini. Sayangnya, para aktivis feminis ini melakukan kesalahan mendasar dimana mereka menyangka bahwa semua wanita di dunia diperlakukan sama dengan mereka, padahal perlakuan seperti itu tidak pernah dan tidak akan pernah mereka temui dalam konsep hidup Islam.

Referensi:

Al-Istambuli, M. M., dan Asy-Syalabi, M. A. N. 2006. Sirah Shahabiyah Kisah Para Sahabat Wanita. Pekalongan: Maktabah Salafy Press.

Patel, I. A. 2005. Perempuan, Feminisme, dan Islam. Bogor: Pustaka Thariqul Izzah.



View the
Original article

Islamofobia – Di Dunia Barat

on Thursday, July 19, 2012

Apakah Islamofobia dan Bagaimana Asal-usulnya?

Islamofobia di dunia Barat telah berubah menjadi suatu penyakit yang sangat menular. Banyak orang dari negara-negara Barat telah tumbuh dengan ketakutan yang tidak rasional dan logis pada Muslim tanpa alasan yang jelas. Nah, sebenarnya ada banyak alasan, tapi tidak ada satu pun alasan yang sesuai dengan pemeriksaan dan evaluasi yang berdasar pada fakta lapangan. Selalu ada ide negatif tentang dunia Arab dan Muslim yang kemungkinan dimulai pada masa Perang Salib. Bagaimana pun, bentuk modern dari Islamofobia tidak sekuno itu. Hal ini dimulai sekitar abad ke-19. Pada tahun 1980-an, khususnya setelah peristiwa yang paling banyak dibahas dan diperdebatkan pada tahun 2001, yaitu penyerangan gedung World Trade Center.

Apa Akar Penyebab Islamofobia

Penyebab Islamofobia berakar pada ketidaktahuan orang barat tentang Islam sebagai agama dan bagaimana sebenarnya pengikut agama Islam. Karena biasanya manusia takut pada sesuatu yang tidak mereka ketahui dan pahami, mereka membangun penolakan terhadap agama dan gaya hidup yang tak dikenal. Ini adalah sebab kenapa Islamofobia menjadi fenomenal beberapa tahun ini. Di samping itu, ada kesalah pahaman orang Barat yang menganggap bahwa Islam adalah agama yang primitif. Mereka juga menganggap bahwa gaya hidup Muslim itu ketinggalan zaman dan berbeda. Khususnya pada kasus perempuan dan hak-hak mereka yang nampak ditindas dalam Islam. Menurut pandangan Barat, wanita Muslim diperlakukan rendah dan tidak mendapat kehormatan dan jaminan sosial yang dibutuhkan.

Setelah Islamofobia:

Bagaimana pun, kebanyakan dari ide ini hanyalah sebatas antisipasi tanpa dasar praktek yang nyata. Selain itu, propaganda yang dilakukan media Barat telah membuatnya lebih buruk. Peristiwa 9/11 digunakan oleh media sebagai acuan utnuk membuat fobia semakin kuat dalam pola pikir masyarakat.  Dan karena banyak orang tidak memiliki ide yang pasti tentang Muslim dan gaya hidup mereka, serta menganggap bahwa Islam adalah agama yang berbeda. Dari prasangka yang kuat terhadap agama Islam, kemudian meningkatkan  situasi kebencian pada setiap lingkungan. Akibatnya, Muslim mendapat perlakuan diskriminatif di seluruh dunia bahkan hak masuk ke sebuah negara. Diskriminasi dipraktekkan secara membabi buta.

Bagaimana Menangani Islamofobia?

Situasi Islamofobia secara umum tidak sehat baik bagi Muslim maupun dan juga orang-orang yang memiliki ketakutan terhadap mereka. Terorisme meningkatkan ketakutan dan lagi, diskriminasi ini membuat orang-orang lebih tak bahagia dan melakukan lebih banyak aksi terorisme. Jalan terbaik untuk mengatasi situasi ini  adalah dengan memberikan pendidikan yang baik dan memfasilitasi pembauran antara dua budaya.

You can also read this article in English Here